Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Tuesday, June 24, 2014

Otodidak vs Berguru

Masih soal lawas, perlu nggak sih belajar musik dalam arti berguru kepada ahlinya baik privat atau di tempat kursus musik? Banyak yang berpendapat nggak perlu karena mereka melihat bahwa banyak musisi yang sukses secara otodidak (belajar sendiri). Ya pendapat ini sah saja selama musisi itu punya bakat yang besar. Dia nggak perlu berguru karena dianugerahi talenta musik yang bagus sehingga karya karya musiknya terkenal dan fenomenal. Nah nggak semua orang terlahir dengan keistimewaan seperti itu kan? Kalau bakat anda pas pasan dan nggak mau berguru apa jadinya? Ya kemampuan anda akan segitu segitu saja. Nggak akan upgrade. Suatu saat pasti akan stuck nggak tahu mau ngapain lagi. Tapi dengan berguru secara benar dan terarah bisa dipastikan kemampuan dan wawasan musik akan semakin terasah. Jaman sekarang berguru juga bisa dilakukan via dunia maya. Di internet banyak website atau video online yang bisa mengajarkan banyak hal. Hal ini sangat perlu kita manfaatkan untuk menambah pengetahuan. Namun kelebihan dari berguru secara live atau tatap muka dengan seorang guru/ahli adalah lebih interaktif dan real. Secara fisik kita langsung diajarkan tentang banyak hal yang tidak dapat dicapai secara online. Selamat belajar tiada henti.

Monday, January 30, 2012

Revolusi Industri Musik Indonesia 2012?

Trend terjun bebas pada industri musik Indonesia seperti mewakili ramalan bahwa dunia akan kiamat pada tahun 2012. Pendapatan dari penjualan RBT turun drastis, apalagi penjualan fisik CD/kaset. Entah apakah masyarakat Indonesia yang tadinya sangat fanatik dengan RBT kini menjadi bosan, atau memang daya beli ekonomi jadi menurun. Tapi penurunan ekonomis pada industri musik Indonesia tidak berpengaruh terhadap “musik” sebagai sebuah kesenian dan ekspresi budaya. Kita lihat beberapa band yang dikategorikan indie atau di luar industri musik besar, berkibar dengan konser-konser mereka yang laris bahkan sampai ke mancanegara. Contoh: GBS (Gugun & The Blues Shelter) yang mengharumkan nama Indonesia hingga ke Amerika dan Eropa dengan tour-tour mereka kesana, Cupumanik yang tampil di Kanada, Discus yang merajai festival musik progresif di Amerika Latin dan Eropa, LLW yang menggelar konser di Singapura, dan baru-baru ini Indro Harjodikoro & The Fingers yang melanglang buana tampil di Rusia, juga masih banyak lagi. Banyak band-band indie yang juga merajai pentas-pentas di sekolahan dan kampus. Melihat kenyataan itu, sepertinya ada kesenjangan antara industri musik besar (major label) Indonesia dengan musik yang sukses di panggung-panggung. Fokus industri musik kelihatannya hanya di TV dan beberapa radio. Lihat saja band atau musisi yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya itu sangat jarang sekali anda tonton di acara musik pagi hari di beberapa TV, padahal mereka sukses mengharumkan nama Indonesia. Kepentingan apa yang ada di balik kesenjangan ini? Saya mencoba berangan-angan seandainya 2 kekuatan ini yaitu kesuksesan panggung (pada band atau musisi di luar industri musik) dan industri musik (dengan kekuatan modal kapitalisnya) disatukan. Maka tidak akan ada lagi musisi karbitan dengan musikalitas dan komposisi seadanya, musik Indonesia akan makin berkualitas. Nanti yang akan anda lihat di TV hanya band atau musisi dengan kualitas musik yang mumpuni karena teruji di panggung-panggung musik secara live. Dengan demikian otomatis pendapatan industri musik juga akan terangkat. Penikmat musik pasti akan rela membeli CD/kaset dari musisi atau band yang bermutu dan mereka gemari. Tahun 2012 waktu yang tepat untuk Revolusi Industri Musik Indonesia.

Monday, June 29, 2009

Review HUT ke-2 Komunitas Jazz Chic’s 28 Mei 2009

agus takari & friends2

Tidak terasa jika penyelenggaraan gathering Komunitas Jazz Chic’s (KJC) sudah berusia 2 tahun bulan Mei 2009 ini. Karena itulah gathering hari Kamis tanggal 28 Mei 2009 sekaligus merupakan perayaan atau syukuran kecil-kecilan. Disebut perayaan kecil-kecilan karena berbeda dengan penyelenggaraan acara Ulang Tahun pertama yang diadakan di auditorium Chic’s Musik yang ber-AC, kali ini acara Ulang Tahun kedua cukup diadakan di pelataran parkir Chic’s Musik seperti biasanya gathering bulanan KJC digelar. Namun antusias penikmat jazz dan pengisi acara yang datang ternyata tetap sangat besar. Hari kamis itu parkiran Chic’s Musik sudah dipadati jazz lovers dari berbagai tempat – terimakasih untuk teknologi internet dan terutama Facebook yang menyebarkan undangan acara KJC ini – sejak pukul 8 malam kurang. Line up penampil sebelum acara dimulai juga tercatat ada 11 group atau penyanyi, sehingga awalnya kami dari pengurus KJC merasa ragu apakah waktunya mencukupi sampai pukul 12 malam. Suasana awal yang ramai membuat kami bersyukur karena musik jazz masih mendapat tempat pada masa sekarang ini, niat kami dari KJC untuk menggelar acara jazz di pinggir jalan ternyata mendapat antusiasme yang meriah, terbukti dari membludaknya jazz lovers yang datang hari kamis itu.
Sekitar pukul 20.30 acara langsung dibuka dengan sepatah dua patah kata dari sang Ketua KJC, yaitu Erik Andrianto sekaligus mewakili pengurus KJC. Sambutan dari Erik dilanjutkan dengan tiup lilin di atas kue tart sederhana. Masih berusia balita, tapi KJC akan berusaha terus untuk semakin eksis. Setelah tiup lilin, Gustam (vokal) dan Ade (piano) mengawali acara dengan menampilkan lagu Moody Blues. Duet yang sejuk dan menggetarkan ini mampu mengangkat nuansa jazz dan membangkitkan semangat jazz lovers yang hadir. Setelah lagu Moody Blues, Gustam dan Ade lalu mendaulat Ossa (drum), Ricky (bass), Bhayu (piano), Yose (perkusi), dan Imam Fathur (gitar) untuk membantu mereka membawakan lagu Spain milik Chick Corea dan Al Jarreau. Sangat panas, suasana semakin meriah dengan irama latin fusion yang menghentak. Ade yang masih berusia belasan dan tuna netra menunjukkan kelasnya sebagai jazzer jenius yang memiliki masa depan cerah. Orang yang mendengar permainan pianonya tidak akan menyangka bahwa dengan usia dan keterbatasan fisiknya Ade mampu membius jazz lovers berkat kepiawaiannya.
Melanjutkan penampilan Gustam, Ade dan kawan-kawan adalah Agus Takari & Friends. Agus Takari adalah mantan instruktur Chic’s dan cukup terkenal sebagai seorang pengajar gitar jazz. Boleh dibilang Agus-lah yang menyebarkan virus jazz di Chic’s Musik sehingga beberapa siswa maupun instruktur tertarik untuk mendalami dan menekuni musik jazz. Agus Takari (gitar) tampil bersama Ella (vokal), Alex Kuple (bass), Ade (piano), dan Hendra (drum). Agus Takari & Friends memainkan 2 buah nomor jazz standard berirama swing, yaitu Someday My Prince Will Come dan Four. Meski bersifat jam session, namun mereka mampu memainkan musik jazz dengan pakem yang tepat dan sangat memanjakan telinga dan rasa jazz lovers dengan musik swing jazz yang mengalun. Terima kasih banyak untuk mas Agus Takari, sang guru jazz kami.
peppyPenampil berikutnya adalah Peppy Probo, seorang vokalis jazz wanita yang sudah memiliki jam terbang tinggi di berbagai pentas jazz. Peppy Probo yang dibantu oleh Erik (gitar), Alex Kuple (bass), Herman (drum), dan Bhayu (piano) memainkan 3 buah lagu jazz standard yaitu Alice In Wonderland, Summertime (yang diaransemen sedikit funk), dan All Of Me. Suara sopran Peppy yang sangat khas semakin memanaskan suasana malam jazz di jalan Pemuda Rawamangun ini.
Kembali telinga penikmat jazz dimanjakan oleh penampilan vokalis wanita, karena setelah Peppy Probo tampil Natasha & Friends. Kelompok ini diawaki oleh Natasha (vokal), Yose (perkusi), Ade (piano), Siti (gitar), Guntur (bass), dan Dedi (drum). Mereka memainkan musik jazz fusion yang sangat meriah, dicampur dengan irama latin jazz yang menghentak. Cukup banyak nomor hangat yang mereka mainkan, diantaranya Don’t You Worry Bout The Things dan Feel Like Makin’ Love. Penampilan Natasha & Friends sangatlah enerjik, penuh spirit muda dengan aransemen jazz yang modern dan dinamis. Vokal Natasha mampu ber-tutti ria bersama instrumen lain dalam sebuah nomor fusion latin yang cukup kompleks.
tania & rickySetelah itu, tampil kelompok Earth yang tak kalah enerjik juga. Earth sudah sering tampil di berbagai acara komunitas jazz termasuk di KJC ini. Earth yang beranggotakan Tania (vokal), Erik (gitar), Ricky (bass), Ade (piano), Yose (perkusi), dan Hendra (drum) membawakan 2 buah nomor jazz yaitu Chick to Chick dan sebuah lagu mereka sendiri Beautiful Rhythm. Lagu Beautiful Rhythm karya mereka ini patut mendapat acungan jempol karena diaransemen dengan jenius yang memadukan irama ragtime klasik, latin, sedikit funk serta be bop. Sangat menghibur dan berkualitas.
Acara KJC kali ini juga dihadiri oleh Beben, pendiri Komunitas Jazz Kemayoran (KJK). Erik kemudian mendaulat Beben untuk tampil ke panggung. Bukan untuk bermain gitar seperti biasanya, namun sepatah dua patah kata dari Beben sangat memotivasi jazz lovers untuk kian menggiatkan lagi acara-acara komunitas jazz demi memajukan dan menyebarluaskan musik jazz di Indonesia. Meski Beben tidak tampil memainkan gitarnya, namun kehadirannya diwakili oleh sang isteri, Carolina (Ina). Ina tampil bersama Ade menyanyikan lagu Somewhere Over The Rainbow. Suara alto serak khas dari Ina mampu menggetarkan dada penikmat jazz yang menyaksikan, terlebih dilatari oleh permainan piano Ade yang mempesona. Bravo Ina dan Ade. Terimakasih untuk Beben dan KJK-nya yang terus mendukung KJC dan komunitas jazz lainnya.

ade & ina

Suasana sedikit berbeda setelah penampilan dari Ina dan Ade, karena giliran berikutnya yang tampil adalah Heaven On Earth (HOE). Kelompok HOE yang beraliran fusion progresif ini masih tetap diawaki oleh Bhayu (piano & synthesizer), Ossa Sungkar (drum), dan Franky Sadikin (bass). Menggebrak sejak awal penampilan, emosi penonton kian dibawa ke langit ketujuh dengan melodi-melodi cepat dan kompleks serta fast tempo. Sangat bertenaga musik yang dimainkan oleh HOE. Di tengah penampilannya, Franky sekaligus juga mempromosikan album solo-nya yang baru beredar dengan memainkan solo bass yang menawan.
Setelah hingar bingar penampilan HOE, suasana kembali sejuk dengan penampilan Empetrio yang dimotori oleh Andry Bassboy (bass), Duan (drum), dan Denny (piano). Mereka memainkan 3 buah lagu yaitu Mr. PC, Long Trip (karya mereka sendiri), dan So What. Paling menonjol adalah permainan bass dari Andry, yang mampu memainkan lick-lick fusion dan funk serta walking bass dengan tone yang mumpuni. Pada lagu Long Trip, Andry juga memamerkan keahliannya mencabik senar bass dengan teknik slap yang enerjik namun sekaligus juga melodius. Terus maju Empetrio!
Malam kian larut tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat, namun tampaknya jazz lovers belum mau beranjak pulang. Karena itu acarapun terus berlanjut dengan penampilan jam session dari Imam Fathur (gitar), Acil (perkusi), Oktav (bass), dan Herman (drum). Jam session ini membawakan 2 buah nomor berirama funk fusion yang sifatnya jamming dan menonjolkan atraksi solo setiap pemain.
Kemudian jam session diteruskan dengan Peppy Probo (vokal), Tania (vokal), Ricky (bass), Acil (drum), Lukman Zaidi (gitar), dan Alex (piano). Jam session terakhir yang sekaligus menutup rangkaian acara Ulang Tahun kedua KJC ini membawakan sebuah nomor jazz standard berirama swing, yaitu Take The A Train. Duet vokal Peppy dan Tania mampu meninggalkan kesan yang mendalam bagi jazz lovers yang masih setia sampai acara usai.
Terima kasih banyak untuk jazz lovers yang hadir dan berpartisipasi dalam acara KJC kali ini. Sampai berjumpa dalam gathering-gathering bulanan KJC berikutnya. Salam jazz! (Alex Kuple).

happy birthdayhoe