Thursday, March 19, 2009

Gathering Komunitas Jazz Chic’s at Gading Food City 18 Maret 2009


Bicara Jazz at Gading Food City 18 Maret 2009

Bicara Jazz at Gading Food City 18 Maret 2009

Hari Rabu tanggal 18 Maret 2009 merupakan kali ketiga Komunitas Jazz Chic’s (KJC) menggelar gathering di Gading Food City (GFC) Kelapa Gading Jakarta. Berkat kerjasama dengan pihak GFC, gathering KJC cukup sukses digelar setiap hari Rabu selama bulan Maret 2009 ini. Gathering ketiga kali ini dibuka dengan penampilan band Rubberband yang terdiri dari siswa-siswi Lembaga Pendidikan Musik Chic’s Rawamangun. Rubberband membawakan beberapa buah lagu populer saat ini. Penampilan mereka cukup baik dan maksimal serta menghibur pengunjung yang hadir di GFC. Setelah Rubberband, giliran tampil duo Shella (vokal) dan Karisila (gitar akustik) yang membawakan beberapa buah lagu bernuansa akustik. Penampil ketiga adalah band Free Flow yang menjuarai festival band Chic’s beberapa bulan lalu. Free Flow memainkan beberapa nomor jazzy yang cukup populer serta beberapa buah lagu karya mereka sendiri. Penampilan Free Flow cukup apik dan rapi, cukup menjanjikan prestasi di masa mendatang.

Di puncak acara tampil band Bicara Jazz yang sering tampil di gathering KJC. Bicara Jazz yang beranggotakan Andrea Maulana (vokal), Alex Kuple (bass), Erik Andriyanto (gitar), Sonny (piano), dan Herman (drum) merupakan para instruktur di LPM Chic’s. Bicara Jazz membawakan beberapa nomor jazz latin dan standard dan tampil selama kurang lebih 2 1/2 jam (dibagi menjadi 3 sesi pertunjukan). Selain nomor jazz latin dan standard, Bicara Jazz juga meramu beberapa nomor populer dengan aransemen jazz seperti beberapa lagu milik James Blunt dan The Bee Gees.

Bicara Jazz at Gading Food City 18 Maret 2009

Bicara Jazz at Gading Food City 18 Maret 2009

Pada sesi ketiga atau terakhir penampilan Bicara Jazz, pengunjung yang hadir diberi kesempatan untuk ber-jam session, dan ternyata seorang gitaris jazz yang cukup dikenal yaitu Agus Takari yang menyempatkan diri hadir di GFC malam ini bersedia tampil ber-jam session. Bicara Jazz featuring Agus Takari semakin memeriahkan malam gathering KJC 18 Maret 2009 ini dengan memainkan beberapa nomor jazz standard seperti Stella by Starlight dan Satin Doll. Akhirnya sekitar pukul 11 malam gathering KJC di GFC Kelapa Gading harus diakhiri. Terima kasih untuk para pengunjung yang hadir pada 18 Maret 2009 di GFC, Agus Takari yang bersedia tampil untuk jam session, juga kepada pihak GFC yang menyediakan tempat untuk gathering KJC. (Alex Kuple)

Bicara Jazz feat. Agus Takari at Gading Food City 18 Maret 2009

Bicara Jazz feat. Agus Takari at Gading Food City 18 Maret 2009

Bicara Jazz feat. Agus Takari at Gading Food City 18 Maret 2009

Bicara Jazz feat. Agus Takari at Gading Food City 18 Maret 2009

Wednesday, February 25, 2009

Baim Show at Margo City Depok 22 Februari 2009



Setelah sebelumnya pada tanggal 14 Februari 2009 duet Baim dan Artika sukses perform di Pondok Indah Mall 2, kali ini Margo City Depok mendapat kesempatan kedua menyaksikan live Baim dan Tika dengan single "Lindungimu". Kembali Baim dan Band tampil berempat, dengan bantuan Alex Kuple (bass), Acha (drums), dan Soni (piano & keyboard). Bertempat di lobby lantai dasar Margo City yang luas, Baim tampil live pada acara yang dibuat oleh Lee Cooper bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia.Baim dan band mendapat kesempatan tampil sekitar pukul 16.00 WIB. Lagu pertama sebagai opening adalah "Ough", sebuah nomor klasik dari Ada Band formasi awal. Lagu yang cukup menghentak ini mampu menggugah awareness pengunjung Margo City untuk mendekati panggung. Kemudian Baim menyanyikan lagu dari album barunya yang juga nge-beat yaitu "Seksi Untukku".



Memang terlihat para penonton belum begitu "ngeh" dengan lagu ini karena memang masih fresh, namun lirik lagu yang cukup genit bisa membuat penonton sedikit menyimak. Sebagai penutup, Baim berduet dengan sang isteri, Artika menyanyikan lagu andalan di album terbaru yaitu "Lindungimu". Mungkin banyak pengunjung tidak menyangka kalau Artika sebagai mantan Puteri Indonesia mampu bernyanyi, namun keraguan pengunjung terbalas dengan penampilan yang berkualitas dari duet terbaru tahun 2009 ini. Vokal Tika ternyata mampu mengimbangi Baim dan saling bersenyawa. Lirik penuh kasih sayang yang dibalut aransemen musik pop dari lagu "Lindungimu" diharapkan mampu membius penikmat musik Indonesia di tahun 2009 ini.(Alex Kuple).


Baim Show at Pondok Indah Mall 2 14 Februari 2009

Ini merupakan show pertama Baim untuk album terbarunya tahun 2009 "Perfectionist" yang menelurkan singel pertama lagu "Lindungimu" dimana Baim berduet bersama isterinya, Artika Sari. Sekaligus merayakan hari Valentine, Toblerone mengundang Baim dan Tika sebagai pembicara sekaligus perform di stage lobby Pondok Indah Mall. Baim dan band tampil berempat, the rest are Alex Kuple (bass), Acha (drums), dan Soni (piano & keyboard). Meski tanpa checksound terlebih dahulu mengingat keterbatasan waktu dan tempat acara, Baim band featuring Artika tampil cukup maksimal. Tika meski baru pertama kali ini tampil menyanyi di panggung terlihat percaya diri mengimbangi sang suami. Yang sedikit disayangkan adalah adanya larangan menggunakan drum full set di panggung PIM 2, sehingga Acha hanya menggunakan snare dan hi-hat saja. Cukup mengurangi groove musik namun mampu memberi kepuasan pada pengunjung yang penasaran melihat duet Baim dan Tika.(Alex Kuple).

Friday, November 28, 2008

Sunday, August 03, 2008

Gathering Komunitas Jazz Chic's 24 Juli 2008

Acara gathering Komunitas Jazz Chic's (KJC) pada tanggal 24 Juli 2008 terpaksa dibatalkan karena musibah yang menimpa Erick selaku koordinator KJC saat acara baru saja akan dimulai. Erick yang berniat memberikan kata-kata pembuka untuk memulai acara sekitar pukul 21.00 mendadak tersetrum saat memegang gagang mikrofon. Sengatan listrik yang sangat besar dan cukup lama, sekitar 30 detik, membuat Erick kejang dan terjatuh. Jika tidak ada ayah dari Ade (piano) yang berinisiatif menendang tangan Erick yang menggenggam mikrofon, niscaya tangan Erick akan lebih lama lagi menempel pada gagang mikrofon yang dialiri listrik berdaya besar. Saat terjatuh Erick sempat menimpa Joko yang sedang mempersiapkan bass, sehingga Joko pun mendapat sedikit sengatan listrik dari badan Erick. Setelah diistirahatkan di sebuah bangku panjang sekitar 15 menit barulah Erick dibawa ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Dharma Nugraha di Rawamangun untuk diperiksa kondisinya serta mendapat perawatan sepenuhnya. Syukurlah kondisi Erick masih cukup baik, sehingga ia hanya menginap semalam di Rumah Sakit tersebut. Berdasarkan keterangan Rizky yang bertindak sebagai sound engineer malam itu, kebocoran aliran listrik yang mengakibatkan Erick kesetrum demikian hebat adalah karena adanya kabel yang rusak sehingga menyebabkan korsleting. Rizky juga sempat kesetrum saat memegang mixer yang digunakan, sehingga mixer tersebut jebol dan harus diganti. Mengingat musibah yang terjadi, acara gathering KJC bulan Juli terpaksa dibatalkan. Terima kasih buat rekan-rekan semua yang hadir pada tanggal 24 Juli 2008 serta memberikan pertolongan, bantuan dan rasa simpati terhadap Erick. Sampai bertemu pada gathering KJC bulan Agustus 2008. Salam jazz! (Alex Kuple).

Friday, July 18, 2008

Show Baim Pekan Raya Jakarta 6 Juli 2008

Dalam rangka perayaan ulang tahun kota Jakarta, seperti biasa diadakan pameran dan pertunjukan musik Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran Jakarta. Baim kebagian jadwal show tanggal 6 Juli 2008, berbarengan dengan Yovie & The Nuno. Kali ini Baim tampil lengkap dengan semua pemain band-nya, dengan formasi Baim (vokal & gitar), Alex Kuple (bass), Acha (drum), Ichol (gitar), dan Soni (piano & keyboard). Jadwal sound check untuk Baim terpaksa mundur sekitar 2 jam karena beberapa kendala di panggung. Karena event yang cukup besar, mas Syafii selaku sound engineer kami bawa untuk memaksimalkan penampilan Baim. Jadwal show sekitar pukul 8 malam juga meleset karena tiba-tiba ada susupan band Female dari panitia sebelum Baim tampil. Syukurlah keseluruhan penampilan Baim sangat memuaskan para pengunjung PRJ yang hadir pada hari minggu itu. Jumlah penonton yang banyak serta antusiasme mereka membawa atmosfer positif bagi Baim dan band-nya, sehingga kami bisa tampil all out. Kepuasan penonton sangat terbantu dengan peran mas Syafii selaku sound engineer yang berpengalaman dalam menangani sound, sehingga energi dari para pemain band tersalurkan kepada para penonton yang menikmati pertunjukan. (Alex Kuple).

Show Baim Pensi SMK Diponegoro 22 Juni 2008

Untuk show Baim kali ini Acha (drummer) berhalangan tampil karena bertepatan dengan hari pernikahannya. Sehingga Baim Trio kali ini tampil dengan formasi Baim (vokal & gitar), Alex Kuple (bass), dan Herman (drum). Pensi SMK Diponegoro Rawamangun Jakarta ini diorganisir oleh Chic's Musik sehingga beberapa band yang tampil berasal dari para instruktur Chic's dan siswa-siswi serta alumnus Chic's. Baim sebagai mantan instruktur Chic's tampil di penghujung acara, membawakan 4 buah lagu termasuk lagu pop klasik Indonesia "Madu dan Racun" di-medley dengan "Singkong dan Keju". Para siswa SMK DIponegoro yang diasuh oleh Pak Arief Rachman (mantan dosen saya di UI) terlihat sangat antusias menyambut kehadiran dan penampilan Baim. Acara berlangsung dengan meriah dan sukses serta diakhiri tepat menjelang waktu Maghrib. (Alex Kuple).

Show Baim Manado 7 Juni 2008

Kembali kali ini Baim hanya membawa Trio band-nya, dikarenakan masalah budget dari pihak penyelenggara yang sangatlah ketat. Terpaksalah hanya Baim (vokal dan gitar), Alex Kuple (bass), dan Acha (drum) yang berangkat ke Manado ditambah 2 orang crew (Kikoy dan Bodong) serta Eko sebagai road manager merangkap soundman. Acara di Manado adalah memperingati 13 tahun Telkomsel. Rombongan selain Baim berangkat hari Jumat tanggal 6 Juni dini hari dengan pesawat Lion Air pukul 5. Cukup menderita menahan kantuk yang begitu hebat ketika berangkat pukul 3 pagi ke airport. Alasan dari pihak penyelenggara adalah jadwal sound check pada siang hari Jumat, mengingat jadwal acara yang cukup padat. Namun setiba di sana siang hari persiapan dari panitia masih minus dengan alasan hujan deras yang mengguyur Manado seharian. Sampai sore haripun panggung dan sound system belum siap. Yang sangat mengecewakan adalah kami baru bisa sound check jam 4 dini hari Sabtu 7 Juni 2008. Jadi buat apa kami berangkat Jumat pagi? Bayangkan sound check di panggung outdoor, menahan kantuk sembari menahan dinginnya angin malam di pantai Manado! Syukurlah sound check berjalan lancar. Show time adalah sekitar pukul 8 malam, dan jarak dari hotel ke venue sangat dekat, sehingga Baim Trio tidak lelah dan terburu-buru di perjalanan. Penampilan Baim Trio sangat menghibur para penonton yang hadir. Jumlah penonton tidak sebanding dengan luas arena pertunjukan, mungkin karena masalah hujan. Meski demikian kami tampil semaksimal mungkin, dan para penonton yang hadir sangat menikmati lagu-lagu yang kami bawakan. Sehabis manggung, kami disuguhi hidangan sea food khas Manado. Selamat ulang tahun ke-13 buat Telkomsel, dan pesan kepada pihak penyelenggara di Manado agar lebih mempersiapkan dengan matang jadwal sound check. (Alex Kuple).

Sunday, June 01, 2008

Ulang Tahun Pertama Komunitas Jazz Chic's

Ulang Tahun Pertama Komunitas Jazz Chic’s 22 Mei 2008

Tanpa terasa Komunitas Jazz Chic’s (KJC) yang diprakarsai oleh beberapa instruktur Chic’s Musik telah berusia satu tahun. Berangkat dari semangat memasyarakatkan musik Jazz, acara yang rutin digelar sebulan sekali di pelataran parkir pinggir jalan ternyata sampai sejauh ini mampu bertahan dan terus berkembang baik dari segi jumlah penikmat musik jazz yang hadir maupun dari jumlah pemusik yang bersedia tampil. Beberapa musisi terkenal sempat hadir dan berpartisipasi pada gathering-gathering rutin bulanan, diantaranya Baim, Harry Toledo, Iwang Noorsaid, Iwan Miradz, Krishna Siregar, dan lainnya. Kali ini pada kesempatan acara ulang tahun pertama, ada sedikit perbedaan yaitu dalam hal tempat acara. Jika biasanya setiap bulan pada hari Kamis minggu keempat gathering KJC diadakan di pelataran parkir Chic’s Musik, maka kali ini gathering sekaligus ulang tahun pertama KJC mengambil tempat di auditorium Chic’s Musik. Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi jumlah penikmat musik Jazz yang akan datang. Jumlah pengisi acara yang terdaftar akan tampil saja sekitar 15 sampai 20. Karena itu acara gathering ulang tahun ini dimulai sekitar pukul 17.00 WIB mengingat banyaknya pemusik Jazz yang akan berpartisipasi.

Agak terlambat dari jadwal yang sudah disusun karena masalah lighting untuk shooting video yang belum siap, acara dimulai sekitar pukul 17.20. Sedikit kata-kata pembuka dari Tanthie sang MC dilanjutkan dengan sambutan singkat oleh Erick selaku koordinator KJC dan pak Jemmy Suhadi selaku owner Chic’s Musik. Dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbolisasi dan syukuran ulang tahun pertama KJC.

Penampilan pembuka adalah jam session oleh beberapa instruktur Chic’s Musik, yaitu Alex Kuple (Bass), Ossa (Drum), Imam Fathur (Gitar), Acil (Perkusi) dan Sonny (Piano). Jam session awal ini membawakan lagu Happy Birthday yang diaransemen Latin Jazz.

Setelah break Maghrib, yang kebagian tampil pertama adalah Imam Fathur (Gitar) dibantu oleh Ossa (Drum) dan Oktav (Bass). Seperti biasanya, Imam membawakan beberapa nomor Fusion Jazz dari Lee Ritenour dan karya sendiri. Selanjutnya tampil grup People 2 yang digawangi oleh Yansen (Piano) dan Roy (Vokal). Karena pemain bass dan drum mereka tidak bisa hadir, People 2 dibantu oleh Alex Kuple (bass) dan Herman (drum) dalam penampilan kali ini. People 2 Membawakan 3 buah lagu standard jazz yaitu All Of Me, Girl From Ipanema dan St. Thomas. Dalam gelaran Ulang Tahun pertama KJC kali ini yang bertindak selaku MC adalah Yudhi Dado (drum), Erick (gitar) dan Bhayu (piano).

Peppy Probo & Friends tampil setelah People 2 dengan memainkan lagu-lagu Days Of Wind and Roses, Let’s Fall in Love dan Too Close For Comfort. Grup ini beranggotakan Peppy (vokal), Sonny (piano), Dede (gitar), Eja (drum) dan Taufan (bass upright elektrik). Penampilan Peppy cukup memukau dengan ciri khas vokalnya yang melengking dengan range vokal yang luas, serta improvisasi yang cukup matang. Melanjutkan penampilan Peppy Probo & Friends adalah grup Notturno yang beranggotakan Joshua (bass upright), Masmo (piano) dan Hendra (drum). Meski bertiga, penampilan mereka terasa penuh dan rapi dalam memainkan corak musik light standard jazz. 3 buah lagu yang mereka mainkan adalah He Told Me About Bean (lagu orisinil Notturno), Stolen Moments dan sebuah lagu dari Thelonious Monk.

Sebagai penampil kelima adalah Yose, Ade & Friends, memainkan lagu standard Giant Steps dan Take 5 serta Cold Dark Night yang berirama Funk Jazz. Grup ini terdiri dari Yose (vokal dan perkusi), Ade (piano), Ricky (bass), Erick (gitar) dan Hendra Jr. (drum). Ade yang masih berusia belasan tahun dan menderita tunanetra sudah sering tampil dalam acara reguler bulanan KJC dan sejak kecil sudah terbiasa ber-jam session dengan para musisi jazz ternama di Amerika Serikat. Kekurangan fisiknya ternyata tidak menghalangi kecermelangan bakat musiknya. Ade tampil memukau dengan improvisasi matang yang dapat kita bandingkan dengan para pianis jazz senior. Grup berikutnya yang tampil adalah One + 2, yang terdiri dari trio vokal Andrea, Gustam dan Pay, serta dibantu oleh Dimas (gitar), Herman (drum), Aji (piano), dan Joko (bass). Mereka tampil kompak dengan aransemen vokal trio yang memikat, membawakan 2 buah lagu yaitu Route 66 (blues jazz) dan L.O.V.E (diaransemen Fusion).

Setelah sesi lagu-lagu standar jazz seperti swing dan be bop, 2 penampil berikut ini sedikit berbeda dengan membawakan jenis musik Fusion yang cukup kompleks. Penampil ketujuh adalah grup Heaven On Earth yang beranggotakan Bhayu (piano dan keyboard), Ossa (drum) dan Franky (bass). Mereka membawakan nomor-nomor karya sendiri yang bercorak Fusion Jazz, yaitu Camel Rider dan Drum Overture. Dengan ciri khas musik Fusion yang njelimet dan penuh dengan tutti, mereka tampil cukup prima. Heaven On Earth telah merilis satu album dan sering tampil di berbagai event jazz berskala nasional. Melanjutkan Heaven On Earth adalah bintang tamu yang sangat ditunggu pada gelaran Ulang Tahun KJC, yaitu Iwang Noorsaid. Iwang yang memainkan keyboard dengan sampling sound dari notebook nya tampil dibantu oleh Ossa dan Franky, membawakan komposisi Iwang sendiri bercorak progresif fusion jazz. Terlihat kematangan seorang Iwang yang sudah cukup lama berkiprah di dunia musik khususnya jazz, dengan improvisasi dan kelincahan jari-jarinya yang sangat memukau.

Setelah 2 penampil yang membawakan corak Jazz Fusion, penampilan kesembilan membawa kita kembali ke era jazz swing dan ballad, yaitu Beben & Friends. Beben (vokal dan gitar) yang merupakan pelopor berdirinya Komunitas Jazz Kemayoran tampil bersama Nanin (piano), Martin (bass), Hendra Jr. (drum), dan Carolina (vokal). Mereka memainkan 5 repertoire yaitu Blue Monk, Stompin’ At The Savoy, Night & Day, One Note Samba dan Lullaby Of Birdland. Dengan komposisi dan improvisasi yang manis ditambah ciri khas vokal serak dari Carolina, Beben & Friends mampu mendinginkan suasana yang terlanjur panas oleh penampilan fusion sebelumnya.

Suasana panas yang berbeda kembali dimunculkan oleh penampilan Zarro ‘n de Vega yang mengusung corak musik latin yang menghentak. Zarro (vokal dan gitar akustik nylon), Ricky (bass), Revi A (drum), Wuijoko (perkusi), Iman BS (harmonika) dan Roberto (piano) dapat mengangkat suasana dengan irama latin yang energik. Mereka membawakan 3 repertoire latin yaitu Incompatibilidade, Tolare dan Navegando Sozinho. Penampilan kesebelas kembali mengangkat aura fusion yaitu Afy yang beranggotakan Aji (gitar), Franky (bass) dan Yudhi Dado (drum). Mereka memainkan Giant Steps yang diaransemen progresif serta Blues 3/8 yang rancak. Sayang penampilan mereka sedikit terganggu oleh kabel gitar Aji yang bermasalah, kadang nyala kadang mati. Namun overall mereka berani membawakan nomor jazz yang sedikit berbeda. Melanjutkan suasana fusion adalah penampilan berikutnya dari Tiga Mawarnih yang beranggotakan Franky (bass), Mudrika (gitar) dan Riza M (drum). Mereka sudah merilis sebuah album indie label dan sering tampil di berbagai ajang jazz nasional. Tiga Mawarnih memainkan 3 buah lagu komposisi mereka sendiri. Sedikit masalah juga menimpa penampilan mereka karena komputer yang mereka gunakan untuk menjalankan sequencer mendadak ngadat. Lagu kedua terpaksa mereka ganti karena masalah tersebut. Demikian pula lagu ketiga yang mereka mainkan terpaksa dihentikan oleh Franky karena komputer masih bermasalah. Namun demikian tidak mengurangi respek audiens terhadap permainan mereka yang kaya olah skill dan teknik prima.

Penampilan ketiga belas oleh Agus Takari & Friends mengembalikan lagi era klasik jazz. Agus Takari (gitar), Peppy (vokal), Herman (drum), Martin (bass) dan Ade (piano) sebenarnya terbentuk dadakan pada saat itu juga karena tim yang direncanakan sebelumnya oleh Agus tidak bisa hadir. Namun jam session dadakan ini cukup mampu menghadirkan nuansa jazz yang kental dari permainan gitar Agus Takari yang sebagai seorang guru telah menghasilkan murid-murid jazzer yang handal juga. 2 buah nomor yang mereka bawakan adalah Take The A Train dan Stella By Starlight. Berikutnya yang tampil adalah New Kids On The Bob (NKOTB) yang beranggotakan Rio (gitar), Reza (drum) dan Taufan (bass upright elektrik). Meski rata-rata masih berusia muda, mereka mampu membawakan 3 buah reperoire standard jazz dengan apik. 3 nomor yang mereka bawakan adalah Sometime Ago, Four On Six dan Chelsea Bridge. Khusus pada lagu terakhir, permainan gitar Rio terdengar sangat indah dan matang memainkan nomor ballad tersebut. Jika kita tidak melihat siapa yang bermain pasti kita akan menebak bahwa yang memainkan gitar pada lagu tersebut adalah jazzer yang sudah tua.

David Klein, seorang sound engineer ternama di Indonesia, menyempatkan diri hadir dan ber-jam session di atas panggung bersama NKOTB. Membawakan C Jam Blues dan Misty featuring Peppy Probo, David Klein menunjukkan keahlian lainnya yang selama ini terpendam, yaitu memainkan piano. Sentuhan jazz pada permainannya sangat kental, meski sudah lama tidak bermain piano di panggung.

Acara tampaknya harus segera dihadiri karena waktu telah menunjukkan sekitar pukul 00.30. Penampilan penutup (keenam belas) adalah tuan rumah, yaitu grup Bicara yang beranggotakan Alex Kuple (bass), Erick (gitar), Sonny (piano) dan Bobby (drum). Bicara memainkan 2 buah nomor standard jazz yaitu Waltz New dan Confirmation. Bicara juga sering tampil di berbagai event jazz, terakhir mereka tampil di event Jazz Blunt di Tennis Indoor Senayan sebagai opening act dari konser James Blunt, dengan mengaransemen beberapa nomor James Blunt menjadi jazz.

Setelah Bicara, gelaran Ulang Tahun Pertama KJC diakhiri oleh jam session seperti layaknya event-event jazz berbasis komunitas. Jam session pertama yang terdiri dari Carolina & Peppy (vokal), Bobby (drum), Dede (gitar), Martin (bass), Sonny (piano) dan Yose (perkusi) memainkan nomor Route 66. Dilanjutkan oleh jam session kedua yang terdiri dari Alex Kuple (bass), Erick (gitar), Beben (vokal), Hendra Jr. (drum), dan Yose (perkusi) membawakan nomor Just Friends.

Sebagai sebuah komunitas yang baru seumur jagung alias setahun, ternyata Komunitas Jazz Chic’s telah sedemikian berkembang dan mampu menarik minat baik penikmat maupun musisi jazz untuk berpartisipasi dalam mengembangkan musik Jazz. Salut dan selamat buat KJC, serta terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang hadir pada acara Ulang Tahun Pertama KJC. Salam Jazz. (Alex Kuple 2008).

Foto-foto bisa diklik disini, click here for photos

Tuesday, April 29, 2008

Review Gathering ke-9 Komunitas Jazz Chic’s 24 April 2008

Review Gathering ke-9 Komunitas Jazz Chic’s 24 April 2008

April 28, 2008

Tanpa terasa Komunitas Jazz Chic’s (KJC) sudah berusia hampir genap setahun. Tepatnya bulan Mei depan pada tanggal 22 Mei 2008, KJC akan merayakan ulang tahun pertamanya dengan gathering yang dirancang akan lebih meriah dari gathering rutin bulanan biasanya. Dan mulai gathering ke-9 tanggal 24 April 2008 yang baru saja lewat, aroma perayaan ulang tahun sudah terasa dengan banyaknya penampil dan penonton yang hadir di pelataran parkir Chic’s Musik Rawamangun Jakarta Timur, tempat acara gathering KJC biasa diadakan. Boleh dibilang gathering kali mencatatkan prestasi baik dalam hal jumlah penonton maupun penampil.
Mengambil tema “Swing Era”, gathering dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dengan penampilan jam session dari para instruktur Chic’s Musik yaitu Erick (gitar), Bhayu (piano), Ossa (drum) dan Joko (bass) membawakan lagu standard Solar. Selanjutnya, gathering dimeriahkan dengan kehadiran Beben (pelopor Komunitas Jazz Kemayoran) yang memberikan workshop tentang Jazz khususnya pada era Swing, dilanjutkan dengan talkshow bersama Erick (yang termasuk salah seorang pelopor KJC). Kemudian Beben tampil bernyanyi dan bermain gitar bersama Ossa, Joko dan Ade (piano) membawakan 2 buah lagu Swing Just Friends dan Now’s The Time. Masih ingatkan dengan Ade? Dia masih berusia belasan tahun dan memiliki bakat luar biasa, dan sangat istimewa karena dia memiliki gangguan penglihatan namun mampu memainkan banyak repertoire jazz dengan fasih.
Penampil berikut adalah langganan dalam setiap gathering KJC yaitu kelompok Heaven On Earth yang digawangi oleh trio Bhayu, Ossa dan Franky (bass). Mereka sedikit menyimpang dari era Swing dengan membawakan nomor-nomor karya sendiri yang kental bernuansa Fusion. Kali ini KJC kedatangan tamu yang istimewa yaitu Iwang Noorsaid, seorang pianis/kibordis yang sangat dikenal di kalangan para jazzer karena memiliki bakat dan kemampuan spesial semenjak dia kecil bersama band The Kids. Iwang langsung didaulat naik ke panggung untuk ber-jam session bersama Alex Kuple (bass), Ossa, Erick, Jose (perkusi) dan Wisnu (saxophone). Jam session ini membawakan irama jazz yang sedikit funk dengan memainkan lagu-lagu Feel Like Making Love dan Cantaloupe Island. Meski baru didaulat di panggung namun disinilah letak kekuatan sebenarnya dari musik Jazz, yaitu menyatukan hati dan jiwa dalam bermain bersama meski secara mendadak saling dipertemukan tanpa latihan sebelumnya.
Berikutnya yang tampil adalah Quintet Erick, Joko, Herman (drum), Ade dan Wisnu yang mengembalikan nuansa Swing dengan membawakan lagu-lagu In A Sentimental Mood dan Take The A Train. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan manis berirama swing dan latin dari Tania & Friends, terdiri dari Tania (vokal), Ricky (bass), Hendra (drum), Totong (gitaris Canizzaro), Jose (perkusi), Ade, dan Acil (perkusi). Mereka membawakan 3 buah lagu Lullaby Of Birdland, Misty dan Close To You.
Gathering kali ini semakin meriah dengan kehadiran Krishna Siregar, seorang pianis jazz yang juga cukup dikenal di kalangan jazzer dan tergabung bersama Iwang Noorsaid dalam kelompok Storytellers yang sering mengisi perhelatan jazz nasional seperti Jak Jazz dan Java Jazz. Krishna didaulat ber-jam session bersama Ricky, Hendra, Jose (kali ini bernyanyi), dan Dodi (gitar). Mereka membawakan lagu swing jazz blues Billie’s Bounce.
Karena waktu sudah mendekati tengah malam, gathering terpaksa harus segera diakhiri dengan jam session dari Krishna, Iwang, Franky, dan Ossa yang memainkan lagu Donna Lee. Krishna dan Iwang berbagi 1 piano dan saling bergantian ber-solo ria dengan kemampuan mereka yang istimewa. Sangat tepat untuk menjadi penampil pamungkas dalam gathering KJC kali ini, meninggalkan rasa puas yang dalam bagi para penonton serta rasa penasaran menunggu kemeriahan gathering ulang tahun pertama KJC bulan Mei 2008. Salam Jazz! (Alex Kuple).

Friday, April 04, 2008

Super Grunge (Show at Classic Rock Cafe Bandung, 27 March 2008)


Super Grunge (Show at Classic Rock Cafe Bandung, 27 March 2008)

Super Grunge merupakan kolaborasi dari para musisi yang pada era tahun 1990-an mengawali karir dengan memainkan musik aliran grunge dan alternative rock. Terdiri dari Ipang (Vokalis dari Plastik/BIP), Magi (Drummer dari /rif), Edwin (Gitaris dari Cokelat) dan Alex Kuple (Bassist dari ALV). Kesaman akar musik inilah yang mendasari terbentuknya proyek Super Grunge, yang didukung oleh pihak Classic Rock Bandung sebagai penyelenggara acara Alternative Nation pada tanggal 27 Maret 2008. Dengan persiapan yang boleh dikatakan minim, hanya mengandalkan ingatan pada masa lalu pernah membawakan jenis musik grunge ini - seperti dikatakan oleh Ipang dan Magi "Udah kira-kira 15 tahun yang lalu nih kita bawain lagu-lagu grunge!" - namun kecintaan pada jenis musik inilah yang membuat proyek Super Grunge menjadi penuh semangat membara. Proyek ini seakan membawa spirit pencerahan baru pada masing-masing musisi, memberi nafas segar saat kembali ke band mereka masing-masing, itulah yang ditekankan oleh Edwin. Peran dari Joshua (manajer Funkop dan staff promosi majalah Rolling Stone) dan Trisno (Bassist dari Pas Band) sangat besar dalam membidani proyek Super Grunge ini. Melalui mereka jugalah proyek ini bisa berjalan dengan sukses.

Repertoire yang dibawakan oleh Super Grunge pada show 27 Maret 2008 :

1. Plush (Stone Temple Pilots)

2. Interstate Love Song (Stone Temple Pilots)

3. Alive (Pearl Jam)

4. I Alone (Live)

5. Would (Alice In Chains) dinyanyikan oleh Che dari Cupumanik

6. Come As You Are (Nirvana) dinyanyikan oleh seorang vokalis dari komunitas grunge Bandung

7. Spoonman (Soundgarden)

8. I Don't Know Anything (Mad Season)

9. Jeremy (Pearl Jam)

10. Black (Pearl Jam)

Meski diadakan pada hari kerja, yaitu Kamis malam Jumat, namun jumlah kursi di Classic Rock terisi penuh, ditambah beberapa puluh penonton yang berdiri. Penonton yang kebanyakan berasal dari komunitas grunge Bandung terlihat antusias sambil bernostalgia ke era musik rock yang bagus dan bermutu tahun 1990-an. Che - vokalis Cupumanik - menyempatkan diri hadir dan ber-jamming ria di panggung, membuat atmosfir grunge kian terasa kental. Demikian juga Trisno - bassist Pas Band - yang memaksakan diri untuk hadir dan menikmati suasana grunge kembali, meski baru saja kembali dari konser di luar kota bersama Pas.

Musik grunge tampaknya tidak akan pernah mati, setidaknya di hati para penggemar sejati grunge. Meski dulu pernah mencapai puncak kejayaan pada era tahun 1990-an dengan The Big Four (Pearl Jam, Nirvana, Soundgarden dan Alice In Chains), saat ini boleh dikatakan menjadi semacam gerakan underground sekaligus gerakan moral dengan menyisakan motor utama Pearl Jam yang tetap eksis sampai detik ini. Proyek ini juga berusaha untuk mengembalikan semangat bermusik yang murni, bila kita melihat keadaan musik Indonesia saat ini yang hampir seratus persen berorientasi pada lagu cengeng. Seperti pernah menjadi bahan pembicaraan hati ke hati (curhat) antara Edwin dan Alex, bahwa anak band 90-an sekarang sedih melihat band-band yang ada saat ini karena lebih menomorsatukan selera pasar dibandingkan mutu dan kreativitas berkarya. Semoga proyek ini bisa terus berjalan dan berkembang untuk memberikan pencerahan pada penikmat musik Indonesia saat ini yang sudah terlanjur terbius dengan musik-musik pop cengeng. Kembalikan semangat musik sejati!

(Alex Kuple).


Sunday, March 02, 2008

Puisi : Balita Di Jalanan

Balita di Jalanan

Siapakah yang akan menjaganya,
menemani hari-harinya,
bermain, bercanda, belajar hidup, merasa,
membantunya, menghibur di kala duka,
memberinya makan, minum, susu, kehangatan,
menjaganya, merawatnya, melindunginya,
membuainya, menceritakan dongeng sebelum tidur?
Saat melihatnya, masihkah kita merasa hidup ini adil?
Katakan padaku keadilan seperti apa untuknya?
Di jalanan ia terpaksa melalui hidup yang nyata
Sangat nyata sampai air mataku tak mampu keluar,
menyisakan kesesakan yang sangat di dada
Kebahagiaan coba diraihnya lewat dunia yang tak ramah
Kecrekan dari tutup botol atau galon bekas air mineral menjadi alat mencari makan
Bertahan untuk makan sekedarnya mengais rejeki dari uluran tangan orang
Sekolah di jalanan dengan seragam kusam
Apa pelajaran yang akan didapatnya dari kesombongan dunia?
Kawan, aku tak mampu melanjutkan kata-kata,
karena kata-kata tak pernah mampu menceritakan betapa perih hati merasa.

(Alex Kuple, Jakarta 3 Maret 2008)

Puisi : Diam Tak Selamanya Emas

Diam Tak Selamanya Emas

Saat diam tak tertahan
Kata-kata meluncur menghunjam deras
Tegas tuntas terkadang beringas
Siapa yang sanggup membungkam pikiran?
Ketika nurani telah dicampakkan dalam kubangan,
dan harga diri ditindas terampas tak berbekas
Janji tinggal bualan dan dongeng mimpi buruk
Lantangkan suaramu sobat,
karena diam tak selamanya emas.

(Alex Kuple, Jakarta 20 Februari 2008)

The Army Ants Second Show

KONSER KEDUA THE ARMY ANTS

Tanggal 22 Februari 2008, bertempat di Vicky Sianipar Music Center di Jalan Minangkabau Manggarai Jakarta Selatan, The Army Ants tampil dalam acara launching Qitix sebagai penyedia jasa content digital seperti ring back tone, wallpaper, dan sebagainya. Berbeda dengan penyedia content digital lain, Qitix lebih mengutamakan karya-karya band-band indie ataupun perseorangan dengan tidak mensyaratkan sudah sign kontrak dengan perusahaan rekaman sebelumnya. Jadi meski The Army Ants belum mendokumentasikan karya-karya ciptaan sendiri dalam bentuk fisik album CD atau kaset, lagu-lagu The Army Ants bisa di download sebagai ring back tone, true tone, wallpaper dan bentuk digital lain melalui Qitix.

Lebih lengkap bisa ikuti link berikut:
http://www.qitix.com/web/artis_detail.php?aid=9
Download The Army Ants Ring Back Tone at
http://www.qitix.com/web/download.php?aid=9
or at
http://www.freekoms.com/en/general/ringlist.jsp?keyword=the+army+ants

Konser kedua The Army Ants dimulai sekitar pukul 8 malam. Saat tampil, jumlah penonton terbilang minim, karena mungkin konser hari itu berbarengan dengan konser Helloween di Senayan. Namun The Army Ants yang kali ini selain Alex Kuple (Bass) dan Joshua (Vokal) dibantu juga oleh Mita (Drum), Yugo (Keyboard), dan Adit (Gitar) tetap menyajikan penampilan yang maksimal. Diawali dengan lagu Whatever Song yang medium tapi grungoholic pada bagian interlude, penonton tampaknya masih sedikit mikir dengan jenis musik yang dibawakan. Perpaduan antara Grunge dan Pop. Lagu berikutnya adalah We're Not Okay yang sedikit lebih menghentak tetap dengan nuansa grunge dan pop dibalut sentuhan funk pada beatnya. Lagu ini cukup memanaskan suasana. Lagu ketiga Cover My Day yang diawali dengan intro piano ditimpali riff gitar. Lagu ini tergolong lembut dan menjadi favorit banyak pengunjung website myspace The Army Ants (www.myspace.com/thearmyants). Joshua berhasil membius penonton dengan keindahan melodi dan lirik Cover My Day ditimpali dengan vokal sedikit menggeram khas grunge. Beberapa penonton mulai merapat ke depan panggung sekedar untuk melihat atau mendengar lebih jelas, juga untuk mengabadikan dengan kamera foto penampilan The Army Ants. Lagu keempat Forever Games dengan intro gitar yang mengingatkan sekali suasana musik grunge alternatif era 90-an namun dibalut dengan orkestrasi string di tengah lagu, ditambah suasana grungy yang berbau jazz pada bagian interlude. Sebagai lagu terakhir, The Army Ants membawakan Dirty Rain yang beraroma riff gitar british rock namun dengan suasana grunge serta sedikit sentuhan jazzy juga pada interlude. Secara keseluruhan penampilan The Army Ants kali ini bisa dikatakan solid dan maksimal. Emosi dan dinamika lagu berhasil dibawakan dengan cukup baik sehingga mampu memancing respons positif dari penonton. Terimakasih banyak buat teman-teman yang menyempatkan hadir dan menyaksikan langsung penampilan live kedua The Army Ants, salam grunge! (Alex Kuple).

Tuesday, February 19, 2008

Puisi : Dalam Hujan

Setiap rintik begitu perih mengusik kesenyapan
Tik tik tik lagu lama yang mengingatkan kedamaian
Terbuai dalam alunan dan ayunan
Ingin kembali ke hari-hari yang penuh kepastian

Rintik yang jatuh di muka menusuk-nusuk hendak masuk
Pedih terasa di jari-jari
Dalam hujan kita hanyutkan lamunan
Detik-detik hilang tersapu rintik
Entah kemana perginya keheningan
Saat rindu pada ketenangan terhapus hujan.

(Alex Kuple, Jakarta 20 Februari 2008)

Sunday, February 03, 2008

Kalau Nggak Banjir Bukan Jakarta Namanya


Banjir sudah bukan fenomena alam yang aneh untuk kota jakarta. Kalau dulu siklus banjir besar adalah 5 tahunan, sekarang tampaknya dipercepat menjadi 1 tahunan. Salut buat gubernur baru sesuai dengan slogan kampanyenya "Serahkan pada yang ahlinya", karena ahli juga mempercepat siklus banjir. (Applause....).
Jumat pagi 1 Februari pertanda a bad day sudah terasa ketika KRL AC langganan tidak beroperasi karena rusak akibat hujan lebat semalamnya. Alhasil pindah moda angkutan dengan bis biasa dengan keadaan jalanan yang macet ruarr biaasaaa. Sampai dekat kantor di kawasan industri pulogadung jalan tergenang setinggi lutut sampai sang tukang ojek menyerah nggak mau lanjut, jadi... ya balik lagi ke rumah. Dalam perjalanan pulang banjir sudah mulai meluap dimana-mana. Sore jam 15.30 terpaksa harus pergi lagi ke daerah Kelapa Gading karena ada job manggung bersama Baim. Dari rumah ke arah jalan Sudirman jalan sangatlah lancar tanpa macet dan banjir. Yang repot dari Sudirman ke arah Kelapa Gading tidak ada angkutan umum yang beroperasi lagi. Terpaksa berpindah-pindah angkutan dengan rute agak memutar. Ke arah Senen sekitar pukul 16.00 terjebak banjir setinggi pinggang orang dewasa. Dari Senen lanjut ke arah Cempaka Putih, terpaksa turun sebelum ITC Cempaka Mas karena air sudah menggenang dimana-mana di daerah Cempaka Putih. ITC Cempaka Mas sekitar pukul 17.00 dikepung banjir di sekitarnya, dari setinggi lutut sampai sedada orang dewasa. Kawasan itu sudah seperti taman wisata karena orang-orang pada terjebak dan turun dari kendaraan masing-masing pasrah melihat keadaan. Tukang-tukang makanan tersebar menjajakan dagangannya. Dari perempatan Coca Cola itu mau menyeberang ke arah Kelapa Gading tapi akhirnya mengurungkan niat karena di kejauhan terlihat orang-orang menyeberang air sudah setinggi dada. Alhamdulillah selepas magrib Bodonk dan Kikoy (crew Baim) menjemput dengan motor melewati jalan bypass ke arah mal artha gading. Meski banjir namun motor masih bisa menerobos kepungan air. Dilanjutkan berjalan menerjang banjir di perkampungan pinggir jalan bypass, sampai juga di daerah kelapa gading, kemudian naik motor sampai Balai Sudirman. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 padahal jadwal Baim tampil pukul 20.30 WIB. Ternyata Baim, Acha (Drummer) dan Eko (Asisten Baim) terhambat banjir sehingga harus naik ojek motor juga menerjang banjir sepinggang sembari menggendong gitar dan bass supaya sampai di daerah Kelapa Gading. Acara Ulang Tahun Yayasan Don Bosco pun mengalami banyak perubahan, Baim jadi penampil terakhir sekitar pukul 21.30. Acara berlangsung tetap meriah meski tamu yang hadir kurang dari separo. Sungguh show yang penuh perjuangan. Jakarta oh Jakarta, kapan bebas banjir? Dalam mimpi kali ya, meski dengan Gubernur yang lebih ahli dari sang ahli.

Monday, January 28, 2008

Trying To Be A Journalist


Menjadi jurnalis (redaksi/wartawan) tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Meski menulis (terutama puisi) sudah merupakan hobi sejak lama, namun berkarir sebagai seorang jurnalis merupakan sebuah langkah kejutan dalam hidup. Sejak Januari 2008, Alex Kuple resmi menjadi staff redaksi di majalah Audio Pro. Pilihan ini didasarkan pertimbangan bahwa bidang garapan masih tetap musik, yang kali ini lebih fokus kepada alat-alat musik. Seiring bertambahnya usia, di samping udah nggak laku lagi bikin band, keputusan ini semoga adalah yang terbaik untuk masa depan. Profesi sebagai pengajar musik juga masih ditekuni pada akhir pekan, selain itu kadang masih ada beberapa job manggung bersama Baim. Tetap semangat, terus berkarya demi musik Indonesia!

Saturday, December 22, 2007

Tragedi Selasa Malam

Tragedi Selasa Malam

Selasa Malam 18 Desember 2007. Sekitar pukul 20.00 WIB. Lokasi Jl. Iskandar Muda Arteri Pondok Indah arah ke Pondok Indah Mall menjelang lampu merah belokan ke Tanah Kusir. Motor gua mencoba menyusur pelan dari kiri jalan ke arah kanan karena akan belok ke arah tanah kusir. Jalanan macet seperti biasanya Jakarta di waktu malam weekdays. Di tengah himpitan mobil betapa kagetnya gua karena tiba-tiba di jalanan aspal ada separator busway. Tanpa sempat menghindar, ban depan motor terpaksa menyenggol pinggiran separator keparat itu dan bum! Bedebam motor berikut gua jatuh keras di aspal keras di jalur busway yang belum ada buswaynya itu. Gua dan motor terseret lumayan jauh akibat momentum jatuh itu. Sempat sesak sulit bernapas beberapa detik dan kayaknya blank atau pingsan, karena begitu sadar motor sudah dipinggirkan ke tepi kiri jalan oleh sesama pengendara motor lain yang baik hati Pak Rayhan, yang juga membantu menghentikan laju kendaraan lain yang nyaris menabrak gua. Tangan kanan terasa nyeri, juga bagian dada dan punggung serta kaki kanan. Dituntun oleh Pak Rayhan ke tepi kiri jalan menyeberangi gerombolan mobil dan kendaraan lain. Istirahat sebentar meluruskan kaki dan menghirup napas dalam-dalam, bersyukur kepada Allah SWT karena masih bernyawa. Tak lama kejadian sama hampir menerpa motor lain yang untung bisa berkelit. Pak Satpam di pelataran gedung tempat gua istirahat bilang bahwa dia sudah 5 kali menyaksikan motor yang terjebak oleh separator busway keparat itu di tempat yang sama. Bayangkan berapa kejadian di tempat lain yang juga ada separator? Masih menahan nyeri yang hebat, gua nekad bermotor pulang karena kondisi motor masih bisa jalan dan hanya setangnya miring sedikit dengan baret2 dimana-mana. Sebelumnya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Pak Rayhan yang sangat baik hati itu, lupa meminta nomer telponnya, semoga dia mendapat limpahan rahmat dari Allah SWT karena hatinya yang mulia. Di jalan pulang pelan-pelan sambil meringis dan menahan sakit serta memar. Alhamdulillah selamat sampai rumah dan langsung berbaring di tempat tidur. Sungguh pengalaman yang tragis, cukup bikin stress berhari-hari setelahnya. Tidak ingin menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ceroboh tidak melihat aspal di bawah. Mungkin lain kali gua akan bawa alat pendeteksi adanya separator busway keparat itu di motor. Buat pengendara motor juga mobil gua harap hati-hati jika melintas di jalanan yang ada jalur buswaynya, siapa tahu kalau tidak hati-hati andalah korban berikutnya keganasan infrastuktur jalanan Jakarta!!
Kisah ini bukan rekayasa, tapi pengalaman pribadi yang ditulis sebagai peringatan untuk pengendara kendaraan bermotor di Jakarta. (Alex Kuple, Bintaro 23 Desember 2007).

Sunday, October 28, 2007

Musik Indonesia Masa Kini

Artikel berikut ini sekedar persepsi pribadi aja, tanpa maksud menggurui. Kalau mau dijadikan buat bahan renungan ya syukurlah.
Sedih rasanya mengamati perkembangan musik Indonesia saat ini, meskipun tidak sedih-sedih amat karena ada beberapa pemusik yang bisa memberi secercah harapan. Ketika membicarakan musik kita tidak akan pernah terlepas dari subyektivitas, misal anda lebih suka musik pop sedangkan saya lebih suka jazz atau rock. Soal subyektivitas tidak akan ada habisnya kalau diperdebatkan karena itu masalah selera. Namun ada sisi lain dari musik yaitu kualitas, nah yang ini bisa diperdebatkan karena menyangkut masalah rasionalitas. Musik yang laku laris manis di pasaran belum tentu berkualitas, tentu ini juga semua sudah pada tahu. Demikian juga musik yang berkualitas belum tentu laku. Yang mendapatkan tempat terhormat biasanya adalah musik yang berkualitas dan laku. Hal yang terakhir ini sangat jarang terjadi di Indonesia, padahal di Eropa ataupun Amerika menurut pengamatan saya pemusik yang laku adalah yang berkualitas. Sebagai contoh: Pink Floyd, Led Zeppelin, The Beatles ataupun The Police yang mampu menjual puluhan juta copy rekaman. Begitupun Madonna, Jet, Creed, Metallica, sampai Linkin Park yang laris manis. Siapa yang meragukan kualitas bermusik mereka? Justru musik yang tidak berkualitas tidak akan pernah laku disana. Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata terbalik, karena masyarakat kita lebih menyukai musik yang kualitasnya tidak mampu dipertanggungjawabkan. Meminjam pandangan beberapa teman yang saya kenal, "Buat apa sih dengerin yang rumit-rumit atau ribet, mending denger yang enak atau mendayu-dayu aja, karena hidup udah susah!" Pandangan seperti ini selalu membuat saya bertanya apakah benar faktor ekonomi memang berpengaruh terhadap preferensi selera musik? Mungkin ada benarnya ya, udah hidup susah, dengerin yang susah juga. Karena itu mungkin musik yang cengeng melankolis mendayu-dayu begitu cepat nyangkut di telinga orang Indonesia. Nggak percaya? Lihat aja buktinya saat ini lagu-lagu yang merajai tangga lagu di Indonesia adalah lagu-lagu yang seperti itu. Saya sebenarnya sedih dengerin banyak lagu-lagu cengeng dan sedih saat ini. Tampaknya banyak band baru sekarang berlomba-lomba bikin lagu-lagu cengeng dan sedih supaya laku. Kayaknya nggak beda sama jaman tahun 80-an dimana lagu-lagu cengeng Indonesia pada masa itu sangat laris. Sedih banget ya... Sudah dong temen-temen pemusik jangan terus menerus menyedihkan Indonesia, huhuhu...
Kalau di awal tadi saya bilang tidak sedih-sedih amat, karena sekarang juga menjamur band-band indie yang memberontak terhadap kemapanan industri musik kita yang cengeng sekarang. Salut buat temen-temen pemusik indie, terus berkarya dan berjuang untuk memperkaya musik Indonesia, namun jangan lupa terus meningkatkan kualitas bermusik.
Akhir kata, kita harus optimis, jangan cengeng terus menerus!!!

Tuesday, July 03, 2007

Komunitas Jazz Chics 28 Juni 2007

Komunitas Jazz Chics 28 Juni 2007

Ini merupakan gathering kedua Komunitas Jazz Chics. Seperti yang pertama bertempat di pelataran parkir Chic's Musik Jalan Pemuda 65 Rawamangun Jakarta Timur, juga diadakan pada hari Kamis minggu keempat. Setelah Jakarta diguyur hujan sejak pagi, cuaca menjadi bersahabat menjelang acara dimulai.
Kali ini line up yang dijadwalkan tampil adalah Baim Trio, Kincir Jazz Band dan Heaven On Earth. Ternyata jumlah penampil bertambah mengingat antusiasme penikmat Jazz yang hadir. Saya datang agak terlambat karena latihan dulu di rumah Baim mempersiapkan materi yang akan ditampilkan. Penampil pertama merupakan Jam Session pembuka (Erick-Gitar, Abbas-Piano, Andre-Bass dan Nuris-Drum) membawakan "All Blues". Kemudian berikutnya adalah Akustik (Ajang Kumpul Siswa Chic's) yang merupakan kolaborasi murid-murid Chic's Musik (antara lain Adit-Bass, Adi-Drum, Ryan-Gitar, Vivi & Mitha-Vokal), membawakan lagu-lagu jazzy pop. Baim Trio (Baim-Vokal&Gitar, Alex Kuple-Bass dan Acha-Drum) tampil selanjutnya membawakan lagu "Enter Sandman"-nya Metallica yang diaransemen Be Bop serta lagu pop 80an "Madu & Racun" dimedley dengan "Singkong & Keju" yang dibawakan secara funk dan latin. Baim (ex Ada Band) selama ini dikenal sebagai penyanyi pop, namun musik jazz merupakan referensinya juga dalam berkarya.
Setelah Baim Trio giliran Kincir Jazz Band (Herman-Drum, Erick-Gitar, Sonny-Piano, Joko-Bass, Acil-Perkusi, dan Mitha-Vokal) membawakan lagu-lagu jazz standard beraroma latin seperti "Aqua deBeder" dan "Desafinado". Kemudian dilanjutkan oleh Heaven On Earth (Bhayu-Piano, Andre-Bass dan Ossa-Drum) menampilkan lagu-lagu free jazz dan fusion. Pada lagu ketiga Heaven On Earth tampil Nuris Sungkar, drummer cilik berusia 10 tahun yang merupakan anak dari Ossa membawakan lagu "Spain". Setelah itu giliran jam session yang pesertanya cukup banyak antara lain Puji (Gitar), Ray (Vokal), Martin (Bass), Abbas (Piano), Dimas (Gitar), Nana (Vokal), Yudhi Dado (Drum), juga musisi-musisi yang sudah tampil sebelumnya.
Terimakasih buat rekan-rekan penikmat Jazz yang hadir, para musisi yang tampil, juga Pak Jemmy dan Chic's Musik yang membuat acara gathering kedua ini meriah dan sukses. Semoga Komunitas Jazz Chics bisa mewadahi aspirasi penikmat Jazz Indonesia khususnya Jakarta. Sampai bertemu kembali bulan depan. Salam Jazz.
Komunitas Jazz Chics 28 Juni 2007

Saturday, June 09, 2007

Salsa Ulang Tahun ke-5

Tidak terasa anak pertamaku, Salsabil Rizqi Aziza pada tanggal 9 Juni 2007 telah berusia 5 tahun. "Life Goes On", seperti dinyanyikan Poison menggambarkan bahwa hidup terus berlanjut ke depan, maju bukan mundur. Nggak kebayang dulu waktu bujangan untuk menikah, have childrens, watch them grow, dan kita akan terus berpacu dalam arus kehidupan. Siapa yang tahu masa depan? Insyaallah kalau dikarunia umur panjang kita selanjutnya akan semakin menua, menyaksikan anak-anak kita menjadi dewasa, dan mungkin kita akan menimang cucu-cucu? Only God knows. Usia 5 tahun, banyak kejutan yang kita alami seperti kecerdasan anak yang membuat kita kagum, tingkah lakunya yang membuat kita tertawa, juga kenakalannya yang membuat kita mengurut dada. Semua itu proses kematangan dalam pembentukan intelegensia, kepribadian dan jiwa sang anak. Kepolosan anak bertutur membuka jendela pikiran kita bahwa hal-hal kecil yang luput dari atensi kita ternyata bermakna dan berdampak besar dalam kehidupan. Terkadang manusia dewasa terpenjara dalam kedewasaannya sehingga menjadi tidak fleksibel dalam menghadapi setiap permasalahan. Banyak hal-hal irrasional yang sering disudutkan sebagai kekanak-kanakan ternyata mampu mengubah dunia dan jalannya kehidupan. Banyak kesenangan yang hilang karena kedewasaan sehingga perasaan dan jiwa kita menjadi tumpul. Ternyata begitu besar dunia anak-anak apabila kita mampu memahaminya bisa memberi kontribusi yang signifikan terhadap kehidupan.
Salsa Ultah ke-5

Show Baim Jambi 8 Juni 2007


Dalam show kali Baim cuma tampil bertiga (Baim Trio) dengan formasi Baim (Vokal & Gitar Elektrik), Alex Kuple (Bass) dan Acha (Drum). Baim Trio tampil di acara Final Pemilihan Putri Indonesia wilayah Jambi 2007. Tampil sekitar pukul 9 malam, Baim Trio memainkan total 6 lagu yang dibagi dalam 3 session menyesuaikan dengan rundown acara. Baim Trio tampil di hadapan Gubernur Jambi yang sempat diajak Baim bernyanyi bersama di panggung lagu Bujangan-nya Koes Plus. Keseluruhan show berlangsung sukses dan meriah. Meskipun acara sedikit formal namun tidak mengurangi antusiasme penonton yang menyaksikan Final PPI Jambi ini. Lagu-lagu hits Baim "Seperti Yang Kumau" dan "Kau Milikku" mendapat sambutan yang meriah dari penonton, demikian juga lagu-lagu "Madu dan Racun" yang mengundang penonton untuk bergoyang di tempat dudukknya serta "Bujangan" yang disambut koor dari audiens.
Show Baim Jambi 8 Juni 2007

Tuesday, June 05, 2007

Show Baim Sungai Lilin 3 Juni 2007

Perjalanan dari Palembang menuju Sungai Lilin ditempuh sekitar 3 jam. Sungai Lilin merupakan sebuah kota kecil di Sumatera Selatan dekat Palembang. Baim dan Band dibawa oleh A Mild Live untuk konser disana dalam rangkaian tour A Mild Live di kota-kota kecil. Konser diawali oleh beberapa band lokal yang menjadi finalis Rising Star A Mild beberapa waktu lalu. Baim tampil terakhir dengan formasi full band, Baim (vokal dan gitar akustik), Alex Kuple (Bass), Ichol (Gitar Elektrik), Soni (Keyboards) dan Acha (Drum). Meski awalnya diragukan oleh panitia, namun pada kenyataannya Baim dan Band tampil memukau para penonton Sungai Lilin yang turut menyanyikan dengan gempita lagu-lagu hits Baim seperti 1000 Bayang, Seperti Yang Kumau dan Kau Milikku. Di tengah repertoar lagu kita menyisipkan lagu klasik pop Indonesia Madu dan Racun serta Bujangan yang mampu menggetarkan area pertunjukan membuat penonton bergoyang dan berlompat-lompatan. Secara keseluruhan penonton sangat puas dengan penampilan Baim Band. Kepada para Event Organizer terutama anak-anak muda, saya menasehati supaya banyak bergaul banyak cari informasi banyak memperluas wawasan musik, supaya tidak salah pilih artis. Karena kejadian show A Mild Live sebelumnya ditinggal penonton karena artis yang tampil tidak sesuai dengan harapan penonton daerah. Baim nyaris tidak jadi main karena diragukan mampu menggoyang penonton daerah karena EO-nya kurang informasi show-show Baim sebelumnya di daerah-daerah lain. Dan ternyata hasilnya memuaskan bukan? Bagaimana kalau tidak jadi main dan salah pilih artis lain? Jangan suka underestimate sebelumnya. Hidup musik Indonesia!
Show Baim Sungai Lilin 3 Juni 2007

Show Baim Palangkaraya 22 & 23 Mei 2007

Show pertama tanggal 22 Mei 2007 dalam rangka Kal-Teng (Kalimantan Tengah) Expo 2007, seperti PRJ Kemayoran gitu deh. Show dimulai sekitar pukul 17.00 WIB. Kali ini Baim Band tampil full personil, Baim (Vokal & Gitar Akustik), Alex Kuple (Bass), Ichol (Gitar Elektrik), Soni (Keyboards) dan Acha (Drum). Ada kejadian sedikit heboh, saat kita berangkat dari hotel menuju venue ternyata kita meninggalkan Obbie sang MC. Sesampai di venue panitia kebingungan kenapa kita nggak bareng Obbie, jadilah acara sedikit ditunda menunggu mobil panitia menjemput Obbie ke hotel. Keseluruhan show berlangsung sukses dan meriah, juga berkat penampilan Obbie sebagai MC yang sangat kocak dan agak menjijikkan (hehehe...). Memainkan sekitar 7 lagu Baim mampu memukau penonton yang sebagian besar anak-anak sekolahan di palangkaraya beserta guru-gurunya, juga pengunjung Kal-Teng Expo.
Show kedua besoknya tanggal 23 Mei 2007 dalam rangka HUT ke-50 Propinsi Kalimantan Tengah bertempat di alun-alun pusat kota Palangkaraya. Acara ini disiarkan langsung oleh TVRI Nasional dengan dihadiri Gubernur Kal-Teng dan para undangan. Wah, tampaknya agak-agak formal nih acara ya. Tapi begitu acara protokoler usai dan tiba giliran acara hiburan musik penonton yang memadati pinggir panggung langsung antusias saat diumumkan yang akan tampil berikut adalah Baim. Baim Band awalnya tidak dijadwalkan untuk tampil di acara HUT Kal-Teng ini, namun atas permintaan langsung Gubernur pihak EO Bu Pur menerima dengan hormat undangan tersebut, jadi semacam surprise untuk masyarakat Kal-Teng. Malah setelah melihat situasi acara, apabila Baim tidak main acara mungkin sedikit kacau mengingat ketidaksiapan panitia lokal menyediakan perangkat sound system yang memadai. Kita membawa sendiri perlengkapan Sound System dari Jakarta untuk mengantisipasi ketidaksiapan panitia lokal. Show Baim di hadapan Gubernur dan para undangan berlangsung sukses dan meriah, namun disayangkan bahwa penonton tidak dapat mendekati depan panggung karena adanya kursi-kursi VIP untuk para undangan.
Sebelum show yang kedua kita sempat mengunjungi penangkaran Orang Utan di BOS-Wanariset beberapa kilometer dari Palangkaraya. Disana adalah tempat merehabilitasi para Orang Utan yang tercerabut dari habitatnya karena dipelihara secara individu di kota-kota besar seperti Jakarta. Di tempat itu para Orang Utan diberi pelatihan supaya bisa hidup survive secara normal di hutan, karena sebelumnya mereka hidup di dalam kurungan di kandang-kandang pribadi orang kota yang tidak berperikebinatangan.
Baim Show Palangkaraya 22-23 Mei 2007

Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan 17 Mei 2007

Alhamdulillah telah berlangsung dengan sukses acara Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan, anak kedua Alex Kuple Aryawan dan Astrid Noveira pada tanggal 17 Mei 2007. Salma terlahir pada tanggal 21 September 2006. Aqiqah merupakan sunnah dalam Islam bagi yang mampu untuk mengorbankan kambing seekor bila yang lahir anak perempuan, dan kambing 2 ekor untuk anak lelaki. Hasil korban dibagikan kepada anak-anak yatim piatu yang membutuhkan. Sempat tertunda cukup lama untuk melangsungkan acara Aqiqah ini, menyesuaikan dengan kondisi keuangan karena membeli kambing dan melaksanakan Aqiqiah butuh biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillah pada tanggal 17 Mei 2007 Aqiqah dapat terlaksana secara sederhana di rumah Bintaro. Mohon doa teman-teman semua kepada Salma Nayyara Laisya Aryawan agar menjadi putri yang sholehah.
Salma Aqiqah

Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan 17 Mei 2007

Alhamdulillah telah berlangsung dengan sukses acara Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan, anak kedua Alex Kuple Aryawan dan Astrid Noveira pada tanggal 17 Mei 2007. Salma terlahir pada tanggal 21 September 2006. Aqiqah merupakan sunnah dalam Islam bagi yang mampu untuk mengorbankan kambing seekor bila yang lahir anak perempuan, dan kambing 2 ekor untuk anak lelaki. Hasil korban dibagikan kepada anak-anak yatim piatu yang membutuhkan. Sempat tertunda cukup lama untuk melangsungkan acara Aqiqah ini, menyesuaikan dengan kondisi keuangan karena membeli kambing dan melaksanakan Aqiqiah butuh biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillah pada tanggal 17 Mei 2007 Aqiqah dapat terlaksana secara sederhana di rumah Bintaro. Mohon doa teman-teman semua kepada Salma Nayyara Laisya Aryawan agar menjadi putri yang sholehah.
Salma Aqiqah

Friday, April 20, 2007

Hidup Itu Pilihan

Berapa banyak pilihan yang sudah kita buat sejak kecil sampai sekarang ini? Dalam setiap segi kehidupan kita selalu dihadapkan pada pilihan dengan segala resikonya tentu. Kita memilih pakaian untuk hari ini, makanan apa yang akan kita telan, minuman apa yang akan kita minum, moda angkutan apa yang akan kita gunakan, termasuk juga kata-kata yang akan kita ucapkan. Akan sangat ruwet kalau semua pilihan itu terlalu kita pikirkan. Bisa gila! Kebanyakan pilihan berlangsung seperti tanpa perlu pemikiran, terjadi begitu saja. Hanya beberapa pilihan yang terhitung berat yang membutuhkan pemikiran ekstra seperti kendaraan atau rumah yang akan kita cicil, karir, juga pasangan hidup. Nah, memutuskan untuk memilih suatu hal yang berat inilah yang bisa menjadi gangguan dalam siklus dan alur hidup kita. Selain pertimbangan pemikiran, emosi dan rohani kita juga akan mengambil peran yang sangat vital. Untuk harga yang mahal kita tentu tidak ingin kecewa bukan? Namun terkadang dari ketiga faktor tadi (akal, emosi dan rohani) sering terjadi ketidakseimbangan. Untuk beberapa situasi sebaiknya faktor akal lebih dominan daripada kedua faktor lain, seperti dalam mengatur keuangan keluarga. Dalam masalah percintaan, terkadang faktor emosi lebih berperan dibanding rohani dan akal, bukankah begitu? Lantas kenapa sering terjadi penyesalan setelah kita menentukan pilihan? Itu karena adanya ketidakseimbangan antara ketiga faktor tersebut. Banyak pilihan yang dilakukan dengan membabi buta tanpa antisipasi resiko di masa depan. Namun terkadang ada faktor lain yang bisa lebih dominan dari ketiga faktor tadi, yaitu keyakinan. Keyakinan tidak akan bisa ditelaah secara akal, emosi maupun rohani, karena keyakinan mengatasi semuanya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri kita yang kadang terjadi saat memutuskan sesuatu, “Ayo maju terus, akan kita hadapi apapun resikonya!” Penyesalan memang datang belakangan, karena kalau datang duluan kita tidak akan pernah memilih. Kita akan diam di tempat. Hidup ini akan menjadi hambar bila kita tidak pernah “mengalami” baik itu keberhasilan maupun kegagalan. Pilihan yang berat sangat membutuhkan faktor keyakinan yang kuat. (Alex Kuple, Bintaro 11 April 2007).

Tuesday, April 03, 2007

BICARA di KJK Gathering 30 Maret 2007

Band BICARA untuk pertama kali main di acara Gathering ke-36 Komunitas
Jazz Kemayoran hari Jumat tanggal 30 Maret 2007. BICARA beranggotakan
Alex Kuple (Bass), Erick (Gitar), Bobby (Drum), Sonny (Piano) dan
Stanley (Alto Saxophone). Musik yang dimainin Jazz Standard seperti
Swing, Bebop dan Ballad. Penampilan perdana cukup lumayan, mengingat
latihan bersama lengkap baru sekali sebelum tampil. Repertoire yang
dibawakan ada 4 lagu: There Is No Greater Love, Confirmation, Round
Midnight, dan Giant Steps. Terimakasih banyak buat teman-teman KJK
terutama Beben yang memperkenankan BICARA tampil di gathering kemaren.

Thursday, March 22, 2007

Begin as serious writer

My first article i've wrote is about John Paul Jones of Led Zeppelin. You can see in Gitar Plus Magazine (Indonesia) March 2007. The second article also already in Gitar Plus April 2007, about Tone in bass playing. The next article i've written is in Audio Pro Magazine (Indonesia) March 2007 about Aguilar bass amplifier. Those was my beginning journey as a serious writer.

Tuesday, March 06, 2007

Java Jazz 2007

Perjalanan menikmati suguhan Jazz di Java Jazz 2007 hari minggu 4 Maret 2007 dimulai sekitar pukul 16.00 dengan menemukan Bird asal Korea yang meramu Fusion dan Swing Modern di panggung Lobby Stage 1. Kemudian saya beralih ke panggung Cendrawasih 1 menikmati sebentar sajian musik kontemporer Vicky Sianipar, gabungan musik tradisional Indonesia dengan musik modern.
Tidak lama, balik lagi ke panggung Lobby Stage 1 menikmati Bird yang sempat meracik ulang lagu standard Jazz "Donna Lee" yang agak ribet itu dengan aransemen fusion yang lebih ringan dan menghentak. Sekitar pukul 17.00 saya masuk ke Plenary Hall untuk menyaksikan performance David Benoit & Magenta Orchestra Featuring Michael Paulo. Kangen juga menikmati permainan piano David Benoit yang melodius dalam berimprovisasi. Musik David Benoit jadi terdengar lebih megah dengan balutan unsur orkestra.
Pindah ke panggung Assembly 3, saya menemukan Lisa Ono (Japan) yang memainkan gitar nilon akustik sembari bernyanyi. Musik yang dimainkan cukup light jazz dengan percampuran unsur-unsur latin, reaggae, jepang dan swing blues. Bahkan Lisa Ono dan bandnya sempat mengaransemen kembali lagu Bengawan Solo dengan sentuhan bossanova. Musik Lisa Ono dan bandnya memang asik dinikmati dengan santai sambil duduk, cukup menenangkan pikiran dan jiwa.
Usai maghrib, saya menikmati sajian swing be bop dari John Hondorp dan bandnya (Netherland) di Kasuari Lounge. Mereka banyak membawakan komposisi Jazz karya musisi Belanda. Tidak terlalu banyak penonton yang menyaksikan mereka, jadi saya bisa duduk di table paling depan untuk menikmati John Hondorp dan bandnya.
Selanjutnya melanjutkan perjalanan ke panggung Merak, ada Trio Riza Arshad (rhodes & keyboard), Aksan Sjuman (drum) dan Cameron Undy (bassist dari Australia) menyajikan komposisi free jazz kontemporer. Tidak lama saya segera beranjak karena ingin menikmati Super Fusion (Jeff Lorber, Dave Weckl, Eric Marienthal cs) di Exhibition Hall A Stage 1. Tapi sebelumnya saya makan malam dulu di luar untuk mengganjal perut, harganya gila-gila ya, jadi saya mencari makanan yang kenyang meski mahal.
Kembali ke dalam, di panggung Lobby Stage 2 tampil Martin (Upright bass) dan teman-temannya membawakan komposisi standard jazz. Tidak jauh di Lobby Stage 1 tampil Shapes dari USA yang membawakan Fusion yang funky. Kemudian baru saya masuk ke Exhibition Hall A Stage 1 untuk menunggu penampilan Super Fusion yang ternyata molor dari jadwal. Begitu mereka mulai bermain memang terdengar bahwa band ini bukan band biasa, pengalaman dan kematangan bermain mereka masing-masing berhasil menyuguhkan performance yang sangat menghibur dan berkualitas.
Setelah menikmati Super Fusion saya keluar menuju Plenary Hall karena menunggu penampilan Level 42 (England). Sebelumnya saya mampir dulu ke Cendrawasih 2, di sana sedang perform Krakatau dengan perpaduan musik etnis dan jazz. Wah jadi teringat dengan band saya dulu ALV, karena drummer Krakatau sekarang adalah Gerry Herb, mantan drummer ALV. Penampilan Pra pada bass masih memukau, dia termasuk idola saya sebagai bassist disamping Mates. Setelah menyaksikan Krakatau saya beranjak ke Plenary Hall. Ternyata penonton memadati seluruh area Plenary. Saya segera beringsut pelan-pelan sampai ke tengah. Puas juga bisa menikmati langsung lagu Love Games dan Leaving Me Now. Selanjutnya saya masuk ke Assembly 3 untuk menyaksikan Sadao Watanabe dan bandnya. Senang juga bisa menyaksikan langsung Sadao Watanabe, saya duduk dekat sekali dengan panggung. Sehabis lagu terakhir penonton masih meminta Sadao untuk tampil lagi karena sangat memuaskan.
What an amazing day! Seharian itu saya banyak bertemu dengan teman-teman baik dari kalangan musisi maupun lainnya. Tercatat saya berjumpa dengan Yoyo (bassist ex Bayou), Boris (gitaris Melly), Indro (bassist), Mates (bassist), Illyas (bassist), rekan-rekan instruktur Chics Musik seperti Lidya (biola), Bhayu dan Ricky (Heaven On Earth), rekan isntruktur Purwa seperti Shinta (piano) dan Eppy (drummer Tiket) instruktur Farabi, Oktaf (bassist), Nissa dan Ryan (Omelette), Aswin (psikologi UI), mbak Tika Bisono (psikolog), rekan-rekan media seperti Andre (Trax) dan Mudya (Gitar Plus), rekan-rekan dari MG Musik seperti Herbie, Alisan, Toni, dan banyak lagi. Seru!

Sunday, January 28, 2007

Daily Life : Tipologi Kepribadian Pengemudi Angkutan Umum di Jakarta

Eits, jangan salah tebak dulu, ini bukan judul skripsi saya waktu kuliah dulu. Sekedar untuk berbagi ilmu psikologi dengan mengamati tingkah laku para supir angkutan umum seperti bis, metromini dan angkot atau mikrolet. Tujuannya bukan untuk menjelek-jelekkan, namun hanya untuk memaparkan kondisi riil yang terjadi sehari-hari yang saya alami saat menggunakan angkutan umum di Jakarta. Selain itu juga supaya ada sedikit ilmu psikologi yang saya pelajari bisa saya pakai setelah lama berkutat dengan musik dan musik untuk mencari nafkah.
Berdasarkan pengamatan saya, tipe kepribadian para supir angkutan umum bisa dikategorikan sebagai berikut ini:
  1. Tipe Kepribadian Pembalap Formula One. Hal ini umum terjadi saat setoran belum mencukupi dan di depan ada angkutan umum lain dengan tipe dan trayek yang sama. Wuih, asyik juga berada di dalam angkutan umum seperti itu, seakan berada di mobil Ferrari atau Renault F-1 tapi dengan penumpang banyak. Yang dipikirkan oleh para supir itu cuma duit-duit-duit setoran. Nyawa penumpang? Itu mah urutan keseratus atau malah nggak masuk hitungan. Bayangkan di tengah kemacetan Jakarta yang amit-amit itu mereka bisa selonong kiri kanan jalur seenaknya dengan kecepatan tinggi. Pernah nonton film Speed? Nah, seperti itulah kejadian sebenarnya. Jantung dag-dig-dug? Berdoa sajalah supaya selamat.
  2. Tipe Kepribadian Keong. Tipe ini kebalikan dari tipe pertama walaupun subyeknya bisa sama, dan sering terjadi pergantian tipe kepribadian dalam satu waktu (apa mereka Schizophrenia ya?). Pola tingkah laku seperti keong atau siput biasanya terjadi saat keadaan cukup aman, tidak ada saingan angkutan umum lain dengan tipe dan trayek yang sama, menunggu penumpang yang keluar dari gang-gang, dan keadaan setoran cukup aman atau malah belum aman. Coba amati angkutan umum yang akan memasuki terminal, pasti jalannya seperti keong, dengan harapan di terminal akan memumpuk banyak penumpang untuk mereka. Aspirasi penumpang? Bukan urusan mereka. Kadang senewen juga jika kita ingin mengejar waktu namun apa daya tangan tak sampai.
  3. Tipe Kepribadian Improvisasi. Ini sering terjadi jika mereka melihat jalur trayek yang seharusnya tidak terlalu menguntungkan. Jadinya mereka memutuskan untuk memotong jalur atau malah berputar-putar supaya mendapatkan penumpang yang banyak. Improvisasi juga mereka lakukan dengan men-transfer penumpang ke angkutan umum lain jika mereka menganggap meneruskan trayek tidak terlalu menguntungkan lagi. Jadi mereka memindahkan semua penumpang ke angkutan umum lain dan mereka memutar berbalik arah lagi. Ternyata mereka sudah menerapkan kecanggihan teknologi transfer ya, bukan hanya uang atau data saja yang bisa ditransfer. Mereka juga tampaknya mencintai musik Jazz karena suka dengan improvisasi, walaupun umumnya musik yang mereka setel di perjalanan adalah dangdut. Atau mungkin dangdut lebih canggih improvisasinya ya? Ah, ngelantur.
  4. Tipe Kepribadian Autis. Mereka tidak terlalu peduli dengan keselamatan penumpang yang ingin naik atau turun. Sepertinya mereka lupa dengan fungsi rem, tetap saja kecepatan tinggi waktu menaikkan atau menurunkan penumpang. Yang ada di kepala mereka cuma pikiran mereka sendiri bagaimana dapat penumpang banyak. Yah seperti orang autis saja-lah. Biasanya terjadi kalau di depan atau belakang mereka ada saingan angkutan umum lain, sehingga melambatkan laju kendaraan saat penumpang naik atau turun bisa menghambat kecepatan kendaraan. Tipe Autis juga terjadi saat ada perampokan atau penodongan terhadap penumpang, seperti pernah saya alami beberapa tahun lalu. Seakan mereka tidak peduli dengan keamanan penumpang yang dijadikan target kejahatan, mereka hanya berani mengintip dari spion tapi tidak melakukan apa-apa. Mungkin memang mereka kan bukan pahlawan ya? Dalam hati mereka cuma "Kacian deh lu..."
Apa yang dapat disimpulkan dari tipologi kepribadian di atas? Jakarta memang bukan kota yang ideal untuk bepergian dengan angkutan umum, namun hal ini menjadi keharusan, mau tak mau kalau nggak ada mobil atau motor ya naik apa lagi. Setiap pagi kita akan terbangun dan memikirkan wah nanti supir angkutan umum kita yang seperti apa ya? Itu warna-warni kehidupan, yang kalau kita pikirkan terlalu serius nanti kita bisa jadi stress nggak mau pergi kemana-mana. Ada teman-teman yang mau menambahkan tipe lain dari pengalamannya? Silahkan. Sekian dulu dari saya, terima kasih mau membaca. (Alex Kuple, 29 Januari 2007).

Daily Life : Jakarta Surga Pemusik

Setelah krisis moneter dan kerusuhan 1998, di Jakarta sepertinya merebak fenomena baru yaitu munculnya pemusik-pemusik jalanan atau pengamen di mana-mana. Sebelumnya biasanya kita berjumpa dengan hanya satu atau dua pemusik jalanan di bis yang kita naiki dalam perjalanan. Sekarang coba kita perhatikan, selama perjalanan dalam bis yang sama bisa bergantian sekitar empat sampai tujuh pemusik jalanan. Bisa dikatakan itu adalah tuntutan hidup. Beberapa terpaksa menjadi pengamen karena di-PHK dari kantornya dulu, ada juga yang memang karena tidak diterima bekerja di mana-mana terpaksa menjadi pengamen, selain itu beberapa pengamen muda mencoba mencari peruntungan dengan menjadi pengamen siapa tahu bakat musik mereka semakin terasah di jalanan. Saya temui juga pelajar atau mahasiswa yang terpaksa mengamen untuk menyambung biaya sekolah atau kuliah mereka.
Dengan mengesampingkan latar belakang pengamen, terkadang mereka asyik juga kita nikmati dengan suguhan musik yang bagus karena mereka berbakat, namun ada juga yang sangat mengganggu ketenangan karena suaranya fals, gitarnya juga fals, atau bahkan menyanyi sekedarnya saja sambil bertepuk tangan dengan tempo dan ritmis yang tidak karuan. Yang menjadi menyebalkan juga adalah apabila beberapa pengamen yang naik atau turun lagunya sama itu-itu saja. Wuih, kepala sepertinya mau pecah! Apa daya kita? Mau marah-marah menyuruh diam dikira kita jagoan atau malah orang gila. Untung sekarang ada teknologi MP3 player atau yang lebih lawas walkman kaset, kencangkan saja volumenya tapi hati-hati jangan terlalu lama, bisa merusak telinga juga.
Tulisan ini bukan bermaksud menyudutkan pemusik jalanan, namun ada baiknya meningkatkan kualitas musik supaya yang mendengarkan juga bisa menikmati. Beberapa pemusik jalanan cukup berkualitas seperti pernah saya temui dua orang dengan biola dan gitar, aduh mak asiknya menikmati musik mereka, atau pemain gitar dan penyanyi yang suaranya bagus. Kalau begitu kan kita tidak akan ragu-ragu untuk menjulurkan seribu bahkan lima ribu perak ke kantung yang mereka sodorkan. Sekian dulu dari saya, selamat menikmati musik jalanan. (Alex Kuple, 29 Januari 2006).

Wednesday, January 17, 2007

Show Baim Mataram 16 & 17 Desember 2006

Show ini terselenggara berkat kerjasama dengan mas Hock dan mbak Dewi, mereka suami isteri yang tinggal di Mataram yang gua kenal dulu sekitar 3-4 tahun yang lalu waktu gua main ama Nugie di Mataram. Ada 2 jadwal show, tanggal 16 Desember di Cafe Marina di Pantai Senggigi Lombok dan tanggal 17 Desember di Taliwang Sumbawa Barat bertempat di sebuah lapangan. Show di Marina Cafe berlangsung cukup sukses meski jumlah penonton tidak terlalu banyak, mungkin karena tiketnya lumayan mahal ya, dan penonton Cafe biasanya jaim-jaim. Tapi respon penonton Lombok terhadap lagu-lagunya Baim cukup bagus.

Keesokan pagi kami berangkat menuju Taliwang menggunakan mobil dilanjutkan dengan kapal feri menyeberang ke Sumbawa.









Begitu indahnya ternyata pemandangan laut di daerah Lombok-Sumbawa. Sepanjang perjalanan di darat dari pelabuhan ke Taliwang gua baru bisa merasakan betapa jauh Jakarta dengan segala hiruk pikuk pembangungan, karena sepanjang jalan hanya pepohonan, sawah, dan beberapa ekor kerbau atau sapi. Sampai di Taliwang sekitar pukul 2 siang dan terpaksa tidak bisa langsung checksound karena hujan deras. Show bertempat di lapangan, meskipun habis diguyur hujan, penonton memenuhi seluruh area lapangan yang becek. Sangat antusias mereka menyambut Baim, beberapa lagu mereka turut bernyanyi dan berlompatan (emangnya kodok...?). Walaupun Baim cuma tampil bertiga (Baim Trio: Baim-Vokal&Gitar, Alex Kuple-Bass, dan Acha-Drum), ternyata cukup memuaskan masyarakat Taliwang yang haus hiburan.Terimakasih buat mas Hock dan mbak Dewi atas persahabatannya.


Sunday, November 12, 2006

Show Baim 11-12 November 2006

Show Baim 11-12 November 2006

11 November 2006 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kupang? Belum pernah terbayangkan akan menginjakkan kaki di Kupang, selama ini cuma mendengar namanya saja. Berangkat dari Airport Cengkareng pesawat Air Effata jam 6.30 WIB dengan rombongan kecil 5 orang (Baim, gua, Soni-keyboard, Eko-assisten manajer, dan Bodonk-kru). Transit di Surabaya harus berganti penerbangan Trans Nusa Trigana Air karena acara di Kupang adalah 1'st anniversary Trans Nusa. Transit lagi sebentar di Denpasar lalu ke Kupang. Wuih lumayan lama dan capek juga. Sampai di Kupang disuguhkan pemandangan yang mengharukan karena cuaca sangat panas dan tanah begitu kering kerontang, sudah lama tidak ada hujan. Setelah makan langsung menuju venue untuk checksound, bertempat di pelataran luar Mal Ramayana Kupang. Tidak ada hambatan berarti soal sound karena sound system-nya sudah cukup bagus. Waktu pertunjukan sekitar pukul 20.00 WITA, dan penonton terhitung banyak memenuhi seluruh area pertunjukan. Rupanya Baim cukup ditunggu masyarakat Kupang terlihat dari antusiasnya sambutan mereka. Sedikit hambatan terjadi karena masalah listrik, begitu lampu panggung nyala sound system sedikit terganggu, mungkin listrik tidak stabil. Overall show Baim berlangsung sangat sukses dan panitia maupun pihak Trans Nusa sangat puas dengan penampilan Baim Akustik Trio.
Pulangnya sesampai di airport Cengkareng ketemu dengan Gerry (eks drummer ALV), wah reuni jadinya. Dia ikut rombongan Glen Friedly-Dewi Sandra dari show di Menado. Reuni juga deh dengan Dewi Sandra, dulu sempat beberapa kali show bareng sama Nugie (waktu gua masih di Nugie & ALV dulu).

12 November 2006 di Jakarta Convention Centre acara Motor Show. Baim dan band Akustiknya (Gua-bass, Soni-Keybord dan Ichol-Gitar) kebagian jatah meramaikan stand Kawasaki di pameran tersebut. Sambutan penonton memang tidak semeriah sambutan penonton di Kupang, namun show berlangsung lumayan sukses. Ada sedikit kejadian lucu saat Baim salah menyebutkan stand Kawasaki sebagai Suzuki, walah lumayan fatal ya. Tapi panitia cukup memaklumi karena begitu banyak tulisan merek motor di pameran sehingga konsentrasi Baim sedikit terganggu. Setelah show gua menyempatkan diri mengunjungi stand motor Bajaj karena disana Nugie tampil akustik bertiga bersama Nito-gitar dan Leo-bass. Wah ketemu sahabat-sahabat lama seperti Kodil, Nedi dan Abet (dari tim Nugie),tapi nggak sempat ketemu Nugie karena gua udah ditungguin mobil Soni (alat2 dan tas gua di mobil Soni). Cuma Nugie sempat ngeliat dari panggung kalau gua nonton, katanya "Hai mbul!" Sukses buat Nugie!