Saturday, December 22, 2007

Tragedi Selasa Malam

Tragedi Selasa Malam

Selasa Malam 18 Desember 2007. Sekitar pukul 20.00 WIB. Lokasi Jl. Iskandar Muda Arteri Pondok Indah arah ke Pondok Indah Mall menjelang lampu merah belokan ke Tanah Kusir. Motor gua mencoba menyusur pelan dari kiri jalan ke arah kanan karena akan belok ke arah tanah kusir. Jalanan macet seperti biasanya Jakarta di waktu malam weekdays. Di tengah himpitan mobil betapa kagetnya gua karena tiba-tiba di jalanan aspal ada separator busway. Tanpa sempat menghindar, ban depan motor terpaksa menyenggol pinggiran separator keparat itu dan bum! Bedebam motor berikut gua jatuh keras di aspal keras di jalur busway yang belum ada buswaynya itu. Gua dan motor terseret lumayan jauh akibat momentum jatuh itu. Sempat sesak sulit bernapas beberapa detik dan kayaknya blank atau pingsan, karena begitu sadar motor sudah dipinggirkan ke tepi kiri jalan oleh sesama pengendara motor lain yang baik hati Pak Rayhan, yang juga membantu menghentikan laju kendaraan lain yang nyaris menabrak gua. Tangan kanan terasa nyeri, juga bagian dada dan punggung serta kaki kanan. Dituntun oleh Pak Rayhan ke tepi kiri jalan menyeberangi gerombolan mobil dan kendaraan lain. Istirahat sebentar meluruskan kaki dan menghirup napas dalam-dalam, bersyukur kepada Allah SWT karena masih bernyawa. Tak lama kejadian sama hampir menerpa motor lain yang untung bisa berkelit. Pak Satpam di pelataran gedung tempat gua istirahat bilang bahwa dia sudah 5 kali menyaksikan motor yang terjebak oleh separator busway keparat itu di tempat yang sama. Bayangkan berapa kejadian di tempat lain yang juga ada separator? Masih menahan nyeri yang hebat, gua nekad bermotor pulang karena kondisi motor masih bisa jalan dan hanya setangnya miring sedikit dengan baret2 dimana-mana. Sebelumnya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Pak Rayhan yang sangat baik hati itu, lupa meminta nomer telponnya, semoga dia mendapat limpahan rahmat dari Allah SWT karena hatinya yang mulia. Di jalan pulang pelan-pelan sambil meringis dan menahan sakit serta memar. Alhamdulillah selamat sampai rumah dan langsung berbaring di tempat tidur. Sungguh pengalaman yang tragis, cukup bikin stress berhari-hari setelahnya. Tidak ingin menyalahkan siapa-siapa karena mungkin ceroboh tidak melihat aspal di bawah. Mungkin lain kali gua akan bawa alat pendeteksi adanya separator busway keparat itu di motor. Buat pengendara motor juga mobil gua harap hati-hati jika melintas di jalanan yang ada jalur buswaynya, siapa tahu kalau tidak hati-hati andalah korban berikutnya keganasan infrastuktur jalanan Jakarta!!
Kisah ini bukan rekayasa, tapi pengalaman pribadi yang ditulis sebagai peringatan untuk pengendara kendaraan bermotor di Jakarta. (Alex Kuple, Bintaro 23 Desember 2007).

Sunday, October 28, 2007

Musik Indonesia Masa Kini

Artikel berikut ini sekedar persepsi pribadi aja, tanpa maksud menggurui. Kalau mau dijadikan buat bahan renungan ya syukurlah.
Sedih rasanya mengamati perkembangan musik Indonesia saat ini, meskipun tidak sedih-sedih amat karena ada beberapa pemusik yang bisa memberi secercah harapan. Ketika membicarakan musik kita tidak akan pernah terlepas dari subyektivitas, misal anda lebih suka musik pop sedangkan saya lebih suka jazz atau rock. Soal subyektivitas tidak akan ada habisnya kalau diperdebatkan karena itu masalah selera. Namun ada sisi lain dari musik yaitu kualitas, nah yang ini bisa diperdebatkan karena menyangkut masalah rasionalitas. Musik yang laku laris manis di pasaran belum tentu berkualitas, tentu ini juga semua sudah pada tahu. Demikian juga musik yang berkualitas belum tentu laku. Yang mendapatkan tempat terhormat biasanya adalah musik yang berkualitas dan laku. Hal yang terakhir ini sangat jarang terjadi di Indonesia, padahal di Eropa ataupun Amerika menurut pengamatan saya pemusik yang laku adalah yang berkualitas. Sebagai contoh: Pink Floyd, Led Zeppelin, The Beatles ataupun The Police yang mampu menjual puluhan juta copy rekaman. Begitupun Madonna, Jet, Creed, Metallica, sampai Linkin Park yang laris manis. Siapa yang meragukan kualitas bermusik mereka? Justru musik yang tidak berkualitas tidak akan pernah laku disana. Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata terbalik, karena masyarakat kita lebih menyukai musik yang kualitasnya tidak mampu dipertanggungjawabkan. Meminjam pandangan beberapa teman yang saya kenal, "Buat apa sih dengerin yang rumit-rumit atau ribet, mending denger yang enak atau mendayu-dayu aja, karena hidup udah susah!" Pandangan seperti ini selalu membuat saya bertanya apakah benar faktor ekonomi memang berpengaruh terhadap preferensi selera musik? Mungkin ada benarnya ya, udah hidup susah, dengerin yang susah juga. Karena itu mungkin musik yang cengeng melankolis mendayu-dayu begitu cepat nyangkut di telinga orang Indonesia. Nggak percaya? Lihat aja buktinya saat ini lagu-lagu yang merajai tangga lagu di Indonesia adalah lagu-lagu yang seperti itu. Saya sebenarnya sedih dengerin banyak lagu-lagu cengeng dan sedih saat ini. Tampaknya banyak band baru sekarang berlomba-lomba bikin lagu-lagu cengeng dan sedih supaya laku. Kayaknya nggak beda sama jaman tahun 80-an dimana lagu-lagu cengeng Indonesia pada masa itu sangat laris. Sedih banget ya... Sudah dong temen-temen pemusik jangan terus menerus menyedihkan Indonesia, huhuhu...
Kalau di awal tadi saya bilang tidak sedih-sedih amat, karena sekarang juga menjamur band-band indie yang memberontak terhadap kemapanan industri musik kita yang cengeng sekarang. Salut buat temen-temen pemusik indie, terus berkarya dan berjuang untuk memperkaya musik Indonesia, namun jangan lupa terus meningkatkan kualitas bermusik.
Akhir kata, kita harus optimis, jangan cengeng terus menerus!!!

Tuesday, July 03, 2007

Komunitas Jazz Chics 28 Juni 2007

Komunitas Jazz Chics 28 Juni 2007

Ini merupakan gathering kedua Komunitas Jazz Chics. Seperti yang pertama bertempat di pelataran parkir Chic's Musik Jalan Pemuda 65 Rawamangun Jakarta Timur, juga diadakan pada hari Kamis minggu keempat. Setelah Jakarta diguyur hujan sejak pagi, cuaca menjadi bersahabat menjelang acara dimulai.
Kali ini line up yang dijadwalkan tampil adalah Baim Trio, Kincir Jazz Band dan Heaven On Earth. Ternyata jumlah penampil bertambah mengingat antusiasme penikmat Jazz yang hadir. Saya datang agak terlambat karena latihan dulu di rumah Baim mempersiapkan materi yang akan ditampilkan. Penampil pertama merupakan Jam Session pembuka (Erick-Gitar, Abbas-Piano, Andre-Bass dan Nuris-Drum) membawakan "All Blues". Kemudian berikutnya adalah Akustik (Ajang Kumpul Siswa Chic's) yang merupakan kolaborasi murid-murid Chic's Musik (antara lain Adit-Bass, Adi-Drum, Ryan-Gitar, Vivi & Mitha-Vokal), membawakan lagu-lagu jazzy pop. Baim Trio (Baim-Vokal&Gitar, Alex Kuple-Bass dan Acha-Drum) tampil selanjutnya membawakan lagu "Enter Sandman"-nya Metallica yang diaransemen Be Bop serta lagu pop 80an "Madu & Racun" dimedley dengan "Singkong & Keju" yang dibawakan secara funk dan latin. Baim (ex Ada Band) selama ini dikenal sebagai penyanyi pop, namun musik jazz merupakan referensinya juga dalam berkarya.
Setelah Baim Trio giliran Kincir Jazz Band (Herman-Drum, Erick-Gitar, Sonny-Piano, Joko-Bass, Acil-Perkusi, dan Mitha-Vokal) membawakan lagu-lagu jazz standard beraroma latin seperti "Aqua deBeder" dan "Desafinado". Kemudian dilanjutkan oleh Heaven On Earth (Bhayu-Piano, Andre-Bass dan Ossa-Drum) menampilkan lagu-lagu free jazz dan fusion. Pada lagu ketiga Heaven On Earth tampil Nuris Sungkar, drummer cilik berusia 10 tahun yang merupakan anak dari Ossa membawakan lagu "Spain". Setelah itu giliran jam session yang pesertanya cukup banyak antara lain Puji (Gitar), Ray (Vokal), Martin (Bass), Abbas (Piano), Dimas (Gitar), Nana (Vokal), Yudhi Dado (Drum), juga musisi-musisi yang sudah tampil sebelumnya.
Terimakasih buat rekan-rekan penikmat Jazz yang hadir, para musisi yang tampil, juga Pak Jemmy dan Chic's Musik yang membuat acara gathering kedua ini meriah dan sukses. Semoga Komunitas Jazz Chics bisa mewadahi aspirasi penikmat Jazz Indonesia khususnya Jakarta. Sampai bertemu kembali bulan depan. Salam Jazz.
Komunitas Jazz Chics 28 Juni 2007

Saturday, June 09, 2007

Salsa Ulang Tahun ke-5

Tidak terasa anak pertamaku, Salsabil Rizqi Aziza pada tanggal 9 Juni 2007 telah berusia 5 tahun. "Life Goes On", seperti dinyanyikan Poison menggambarkan bahwa hidup terus berlanjut ke depan, maju bukan mundur. Nggak kebayang dulu waktu bujangan untuk menikah, have childrens, watch them grow, dan kita akan terus berpacu dalam arus kehidupan. Siapa yang tahu masa depan? Insyaallah kalau dikarunia umur panjang kita selanjutnya akan semakin menua, menyaksikan anak-anak kita menjadi dewasa, dan mungkin kita akan menimang cucu-cucu? Only God knows. Usia 5 tahun, banyak kejutan yang kita alami seperti kecerdasan anak yang membuat kita kagum, tingkah lakunya yang membuat kita tertawa, juga kenakalannya yang membuat kita mengurut dada. Semua itu proses kematangan dalam pembentukan intelegensia, kepribadian dan jiwa sang anak. Kepolosan anak bertutur membuka jendela pikiran kita bahwa hal-hal kecil yang luput dari atensi kita ternyata bermakna dan berdampak besar dalam kehidupan. Terkadang manusia dewasa terpenjara dalam kedewasaannya sehingga menjadi tidak fleksibel dalam menghadapi setiap permasalahan. Banyak hal-hal irrasional yang sering disudutkan sebagai kekanak-kanakan ternyata mampu mengubah dunia dan jalannya kehidupan. Banyak kesenangan yang hilang karena kedewasaan sehingga perasaan dan jiwa kita menjadi tumpul. Ternyata begitu besar dunia anak-anak apabila kita mampu memahaminya bisa memberi kontribusi yang signifikan terhadap kehidupan.
Salsa Ultah ke-5

Show Baim Jambi 8 Juni 2007


Dalam show kali Baim cuma tampil bertiga (Baim Trio) dengan formasi Baim (Vokal & Gitar Elektrik), Alex Kuple (Bass) dan Acha (Drum). Baim Trio tampil di acara Final Pemilihan Putri Indonesia wilayah Jambi 2007. Tampil sekitar pukul 9 malam, Baim Trio memainkan total 6 lagu yang dibagi dalam 3 session menyesuaikan dengan rundown acara. Baim Trio tampil di hadapan Gubernur Jambi yang sempat diajak Baim bernyanyi bersama di panggung lagu Bujangan-nya Koes Plus. Keseluruhan show berlangsung sukses dan meriah. Meskipun acara sedikit formal namun tidak mengurangi antusiasme penonton yang menyaksikan Final PPI Jambi ini. Lagu-lagu hits Baim "Seperti Yang Kumau" dan "Kau Milikku" mendapat sambutan yang meriah dari penonton, demikian juga lagu-lagu "Madu dan Racun" yang mengundang penonton untuk bergoyang di tempat dudukknya serta "Bujangan" yang disambut koor dari audiens.
Show Baim Jambi 8 Juni 2007

Tuesday, June 05, 2007

Show Baim Sungai Lilin 3 Juni 2007

Perjalanan dari Palembang menuju Sungai Lilin ditempuh sekitar 3 jam. Sungai Lilin merupakan sebuah kota kecil di Sumatera Selatan dekat Palembang. Baim dan Band dibawa oleh A Mild Live untuk konser disana dalam rangkaian tour A Mild Live di kota-kota kecil. Konser diawali oleh beberapa band lokal yang menjadi finalis Rising Star A Mild beberapa waktu lalu. Baim tampil terakhir dengan formasi full band, Baim (vokal dan gitar akustik), Alex Kuple (Bass), Ichol (Gitar Elektrik), Soni (Keyboards) dan Acha (Drum). Meski awalnya diragukan oleh panitia, namun pada kenyataannya Baim dan Band tampil memukau para penonton Sungai Lilin yang turut menyanyikan dengan gempita lagu-lagu hits Baim seperti 1000 Bayang, Seperti Yang Kumau dan Kau Milikku. Di tengah repertoar lagu kita menyisipkan lagu klasik pop Indonesia Madu dan Racun serta Bujangan yang mampu menggetarkan area pertunjukan membuat penonton bergoyang dan berlompat-lompatan. Secara keseluruhan penonton sangat puas dengan penampilan Baim Band. Kepada para Event Organizer terutama anak-anak muda, saya menasehati supaya banyak bergaul banyak cari informasi banyak memperluas wawasan musik, supaya tidak salah pilih artis. Karena kejadian show A Mild Live sebelumnya ditinggal penonton karena artis yang tampil tidak sesuai dengan harapan penonton daerah. Baim nyaris tidak jadi main karena diragukan mampu menggoyang penonton daerah karena EO-nya kurang informasi show-show Baim sebelumnya di daerah-daerah lain. Dan ternyata hasilnya memuaskan bukan? Bagaimana kalau tidak jadi main dan salah pilih artis lain? Jangan suka underestimate sebelumnya. Hidup musik Indonesia!
Show Baim Sungai Lilin 3 Juni 2007

Show Baim Palangkaraya 22 & 23 Mei 2007

Show pertama tanggal 22 Mei 2007 dalam rangka Kal-Teng (Kalimantan Tengah) Expo 2007, seperti PRJ Kemayoran gitu deh. Show dimulai sekitar pukul 17.00 WIB. Kali ini Baim Band tampil full personil, Baim (Vokal & Gitar Akustik), Alex Kuple (Bass), Ichol (Gitar Elektrik), Soni (Keyboards) dan Acha (Drum). Ada kejadian sedikit heboh, saat kita berangkat dari hotel menuju venue ternyata kita meninggalkan Obbie sang MC. Sesampai di venue panitia kebingungan kenapa kita nggak bareng Obbie, jadilah acara sedikit ditunda menunggu mobil panitia menjemput Obbie ke hotel. Keseluruhan show berlangsung sukses dan meriah, juga berkat penampilan Obbie sebagai MC yang sangat kocak dan agak menjijikkan (hehehe...). Memainkan sekitar 7 lagu Baim mampu memukau penonton yang sebagian besar anak-anak sekolahan di palangkaraya beserta guru-gurunya, juga pengunjung Kal-Teng Expo.
Show kedua besoknya tanggal 23 Mei 2007 dalam rangka HUT ke-50 Propinsi Kalimantan Tengah bertempat di alun-alun pusat kota Palangkaraya. Acara ini disiarkan langsung oleh TVRI Nasional dengan dihadiri Gubernur Kal-Teng dan para undangan. Wah, tampaknya agak-agak formal nih acara ya. Tapi begitu acara protokoler usai dan tiba giliran acara hiburan musik penonton yang memadati pinggir panggung langsung antusias saat diumumkan yang akan tampil berikut adalah Baim. Baim Band awalnya tidak dijadwalkan untuk tampil di acara HUT Kal-Teng ini, namun atas permintaan langsung Gubernur pihak EO Bu Pur menerima dengan hormat undangan tersebut, jadi semacam surprise untuk masyarakat Kal-Teng. Malah setelah melihat situasi acara, apabila Baim tidak main acara mungkin sedikit kacau mengingat ketidaksiapan panitia lokal menyediakan perangkat sound system yang memadai. Kita membawa sendiri perlengkapan Sound System dari Jakarta untuk mengantisipasi ketidaksiapan panitia lokal. Show Baim di hadapan Gubernur dan para undangan berlangsung sukses dan meriah, namun disayangkan bahwa penonton tidak dapat mendekati depan panggung karena adanya kursi-kursi VIP untuk para undangan.
Sebelum show yang kedua kita sempat mengunjungi penangkaran Orang Utan di BOS-Wanariset beberapa kilometer dari Palangkaraya. Disana adalah tempat merehabilitasi para Orang Utan yang tercerabut dari habitatnya karena dipelihara secara individu di kota-kota besar seperti Jakarta. Di tempat itu para Orang Utan diberi pelatihan supaya bisa hidup survive secara normal di hutan, karena sebelumnya mereka hidup di dalam kurungan di kandang-kandang pribadi orang kota yang tidak berperikebinatangan.
Baim Show Palangkaraya 22-23 Mei 2007

Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan 17 Mei 2007

Alhamdulillah telah berlangsung dengan sukses acara Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan, anak kedua Alex Kuple Aryawan dan Astrid Noveira pada tanggal 17 Mei 2007. Salma terlahir pada tanggal 21 September 2006. Aqiqah merupakan sunnah dalam Islam bagi yang mampu untuk mengorbankan kambing seekor bila yang lahir anak perempuan, dan kambing 2 ekor untuk anak lelaki. Hasil korban dibagikan kepada anak-anak yatim piatu yang membutuhkan. Sempat tertunda cukup lama untuk melangsungkan acara Aqiqah ini, menyesuaikan dengan kondisi keuangan karena membeli kambing dan melaksanakan Aqiqiah butuh biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillah pada tanggal 17 Mei 2007 Aqiqah dapat terlaksana secara sederhana di rumah Bintaro. Mohon doa teman-teman semua kepada Salma Nayyara Laisya Aryawan agar menjadi putri yang sholehah.
Salma Aqiqah

Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan 17 Mei 2007

Alhamdulillah telah berlangsung dengan sukses acara Aqiqah Salma Nayyara Laisya Aryawan, anak kedua Alex Kuple Aryawan dan Astrid Noveira pada tanggal 17 Mei 2007. Salma terlahir pada tanggal 21 September 2006. Aqiqah merupakan sunnah dalam Islam bagi yang mampu untuk mengorbankan kambing seekor bila yang lahir anak perempuan, dan kambing 2 ekor untuk anak lelaki. Hasil korban dibagikan kepada anak-anak yatim piatu yang membutuhkan. Sempat tertunda cukup lama untuk melangsungkan acara Aqiqah ini, menyesuaikan dengan kondisi keuangan karena membeli kambing dan melaksanakan Aqiqiah butuh biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillah pada tanggal 17 Mei 2007 Aqiqah dapat terlaksana secara sederhana di rumah Bintaro. Mohon doa teman-teman semua kepada Salma Nayyara Laisya Aryawan agar menjadi putri yang sholehah.
Salma Aqiqah

Friday, April 20, 2007

Hidup Itu Pilihan

Berapa banyak pilihan yang sudah kita buat sejak kecil sampai sekarang ini? Dalam setiap segi kehidupan kita selalu dihadapkan pada pilihan dengan segala resikonya tentu. Kita memilih pakaian untuk hari ini, makanan apa yang akan kita telan, minuman apa yang akan kita minum, moda angkutan apa yang akan kita gunakan, termasuk juga kata-kata yang akan kita ucapkan. Akan sangat ruwet kalau semua pilihan itu terlalu kita pikirkan. Bisa gila! Kebanyakan pilihan berlangsung seperti tanpa perlu pemikiran, terjadi begitu saja. Hanya beberapa pilihan yang terhitung berat yang membutuhkan pemikiran ekstra seperti kendaraan atau rumah yang akan kita cicil, karir, juga pasangan hidup. Nah, memutuskan untuk memilih suatu hal yang berat inilah yang bisa menjadi gangguan dalam siklus dan alur hidup kita. Selain pertimbangan pemikiran, emosi dan rohani kita juga akan mengambil peran yang sangat vital. Untuk harga yang mahal kita tentu tidak ingin kecewa bukan? Namun terkadang dari ketiga faktor tadi (akal, emosi dan rohani) sering terjadi ketidakseimbangan. Untuk beberapa situasi sebaiknya faktor akal lebih dominan daripada kedua faktor lain, seperti dalam mengatur keuangan keluarga. Dalam masalah percintaan, terkadang faktor emosi lebih berperan dibanding rohani dan akal, bukankah begitu? Lantas kenapa sering terjadi penyesalan setelah kita menentukan pilihan? Itu karena adanya ketidakseimbangan antara ketiga faktor tersebut. Banyak pilihan yang dilakukan dengan membabi buta tanpa antisipasi resiko di masa depan. Namun terkadang ada faktor lain yang bisa lebih dominan dari ketiga faktor tadi, yaitu keyakinan. Keyakinan tidak akan bisa ditelaah secara akal, emosi maupun rohani, karena keyakinan mengatasi semuanya. Ada dorongan yang sangat kuat dalam diri kita yang kadang terjadi saat memutuskan sesuatu, “Ayo maju terus, akan kita hadapi apapun resikonya!” Penyesalan memang datang belakangan, karena kalau datang duluan kita tidak akan pernah memilih. Kita akan diam di tempat. Hidup ini akan menjadi hambar bila kita tidak pernah “mengalami” baik itu keberhasilan maupun kegagalan. Pilihan yang berat sangat membutuhkan faktor keyakinan yang kuat. (Alex Kuple, Bintaro 11 April 2007).

Tuesday, April 03, 2007

BICARA di KJK Gathering 30 Maret 2007

Band BICARA untuk pertama kali main di acara Gathering ke-36 Komunitas
Jazz Kemayoran hari Jumat tanggal 30 Maret 2007. BICARA beranggotakan
Alex Kuple (Bass), Erick (Gitar), Bobby (Drum), Sonny (Piano) dan
Stanley (Alto Saxophone). Musik yang dimainin Jazz Standard seperti
Swing, Bebop dan Ballad. Penampilan perdana cukup lumayan, mengingat
latihan bersama lengkap baru sekali sebelum tampil. Repertoire yang
dibawakan ada 4 lagu: There Is No Greater Love, Confirmation, Round
Midnight, dan Giant Steps. Terimakasih banyak buat teman-teman KJK
terutama Beben yang memperkenankan BICARA tampil di gathering kemaren.

Thursday, March 22, 2007

Begin as serious writer

My first article i've wrote is about John Paul Jones of Led Zeppelin. You can see in Gitar Plus Magazine (Indonesia) March 2007. The second article also already in Gitar Plus April 2007, about Tone in bass playing. The next article i've written is in Audio Pro Magazine (Indonesia) March 2007 about Aguilar bass amplifier. Those was my beginning journey as a serious writer.

Tuesday, March 06, 2007

Java Jazz 2007

Perjalanan menikmati suguhan Jazz di Java Jazz 2007 hari minggu 4 Maret 2007 dimulai sekitar pukul 16.00 dengan menemukan Bird asal Korea yang meramu Fusion dan Swing Modern di panggung Lobby Stage 1. Kemudian saya beralih ke panggung Cendrawasih 1 menikmati sebentar sajian musik kontemporer Vicky Sianipar, gabungan musik tradisional Indonesia dengan musik modern.
Tidak lama, balik lagi ke panggung Lobby Stage 1 menikmati Bird yang sempat meracik ulang lagu standard Jazz "Donna Lee" yang agak ribet itu dengan aransemen fusion yang lebih ringan dan menghentak. Sekitar pukul 17.00 saya masuk ke Plenary Hall untuk menyaksikan performance David Benoit & Magenta Orchestra Featuring Michael Paulo. Kangen juga menikmati permainan piano David Benoit yang melodius dalam berimprovisasi. Musik David Benoit jadi terdengar lebih megah dengan balutan unsur orkestra.
Pindah ke panggung Assembly 3, saya menemukan Lisa Ono (Japan) yang memainkan gitar nilon akustik sembari bernyanyi. Musik yang dimainkan cukup light jazz dengan percampuran unsur-unsur latin, reaggae, jepang dan swing blues. Bahkan Lisa Ono dan bandnya sempat mengaransemen kembali lagu Bengawan Solo dengan sentuhan bossanova. Musik Lisa Ono dan bandnya memang asik dinikmati dengan santai sambil duduk, cukup menenangkan pikiran dan jiwa.
Usai maghrib, saya menikmati sajian swing be bop dari John Hondorp dan bandnya (Netherland) di Kasuari Lounge. Mereka banyak membawakan komposisi Jazz karya musisi Belanda. Tidak terlalu banyak penonton yang menyaksikan mereka, jadi saya bisa duduk di table paling depan untuk menikmati John Hondorp dan bandnya.
Selanjutnya melanjutkan perjalanan ke panggung Merak, ada Trio Riza Arshad (rhodes & keyboard), Aksan Sjuman (drum) dan Cameron Undy (bassist dari Australia) menyajikan komposisi free jazz kontemporer. Tidak lama saya segera beranjak karena ingin menikmati Super Fusion (Jeff Lorber, Dave Weckl, Eric Marienthal cs) di Exhibition Hall A Stage 1. Tapi sebelumnya saya makan malam dulu di luar untuk mengganjal perut, harganya gila-gila ya, jadi saya mencari makanan yang kenyang meski mahal.
Kembali ke dalam, di panggung Lobby Stage 2 tampil Martin (Upright bass) dan teman-temannya membawakan komposisi standard jazz. Tidak jauh di Lobby Stage 1 tampil Shapes dari USA yang membawakan Fusion yang funky. Kemudian baru saya masuk ke Exhibition Hall A Stage 1 untuk menunggu penampilan Super Fusion yang ternyata molor dari jadwal. Begitu mereka mulai bermain memang terdengar bahwa band ini bukan band biasa, pengalaman dan kematangan bermain mereka masing-masing berhasil menyuguhkan performance yang sangat menghibur dan berkualitas.
Setelah menikmati Super Fusion saya keluar menuju Plenary Hall karena menunggu penampilan Level 42 (England). Sebelumnya saya mampir dulu ke Cendrawasih 2, di sana sedang perform Krakatau dengan perpaduan musik etnis dan jazz. Wah jadi teringat dengan band saya dulu ALV, karena drummer Krakatau sekarang adalah Gerry Herb, mantan drummer ALV. Penampilan Pra pada bass masih memukau, dia termasuk idola saya sebagai bassist disamping Mates. Setelah menyaksikan Krakatau saya beranjak ke Plenary Hall. Ternyata penonton memadati seluruh area Plenary. Saya segera beringsut pelan-pelan sampai ke tengah. Puas juga bisa menikmati langsung lagu Love Games dan Leaving Me Now. Selanjutnya saya masuk ke Assembly 3 untuk menyaksikan Sadao Watanabe dan bandnya. Senang juga bisa menyaksikan langsung Sadao Watanabe, saya duduk dekat sekali dengan panggung. Sehabis lagu terakhir penonton masih meminta Sadao untuk tampil lagi karena sangat memuaskan.
What an amazing day! Seharian itu saya banyak bertemu dengan teman-teman baik dari kalangan musisi maupun lainnya. Tercatat saya berjumpa dengan Yoyo (bassist ex Bayou), Boris (gitaris Melly), Indro (bassist), Mates (bassist), Illyas (bassist), rekan-rekan instruktur Chics Musik seperti Lidya (biola), Bhayu dan Ricky (Heaven On Earth), rekan isntruktur Purwa seperti Shinta (piano) dan Eppy (drummer Tiket) instruktur Farabi, Oktaf (bassist), Nissa dan Ryan (Omelette), Aswin (psikologi UI), mbak Tika Bisono (psikolog), rekan-rekan media seperti Andre (Trax) dan Mudya (Gitar Plus), rekan-rekan dari MG Musik seperti Herbie, Alisan, Toni, dan banyak lagi. Seru!

Sunday, January 28, 2007

Daily Life : Tipologi Kepribadian Pengemudi Angkutan Umum di Jakarta

Eits, jangan salah tebak dulu, ini bukan judul skripsi saya waktu kuliah dulu. Sekedar untuk berbagi ilmu psikologi dengan mengamati tingkah laku para supir angkutan umum seperti bis, metromini dan angkot atau mikrolet. Tujuannya bukan untuk menjelek-jelekkan, namun hanya untuk memaparkan kondisi riil yang terjadi sehari-hari yang saya alami saat menggunakan angkutan umum di Jakarta. Selain itu juga supaya ada sedikit ilmu psikologi yang saya pelajari bisa saya pakai setelah lama berkutat dengan musik dan musik untuk mencari nafkah.
Berdasarkan pengamatan saya, tipe kepribadian para supir angkutan umum bisa dikategorikan sebagai berikut ini:
  1. Tipe Kepribadian Pembalap Formula One. Hal ini umum terjadi saat setoran belum mencukupi dan di depan ada angkutan umum lain dengan tipe dan trayek yang sama. Wuih, asyik juga berada di dalam angkutan umum seperti itu, seakan berada di mobil Ferrari atau Renault F-1 tapi dengan penumpang banyak. Yang dipikirkan oleh para supir itu cuma duit-duit-duit setoran. Nyawa penumpang? Itu mah urutan keseratus atau malah nggak masuk hitungan. Bayangkan di tengah kemacetan Jakarta yang amit-amit itu mereka bisa selonong kiri kanan jalur seenaknya dengan kecepatan tinggi. Pernah nonton film Speed? Nah, seperti itulah kejadian sebenarnya. Jantung dag-dig-dug? Berdoa sajalah supaya selamat.
  2. Tipe Kepribadian Keong. Tipe ini kebalikan dari tipe pertama walaupun subyeknya bisa sama, dan sering terjadi pergantian tipe kepribadian dalam satu waktu (apa mereka Schizophrenia ya?). Pola tingkah laku seperti keong atau siput biasanya terjadi saat keadaan cukup aman, tidak ada saingan angkutan umum lain dengan tipe dan trayek yang sama, menunggu penumpang yang keluar dari gang-gang, dan keadaan setoran cukup aman atau malah belum aman. Coba amati angkutan umum yang akan memasuki terminal, pasti jalannya seperti keong, dengan harapan di terminal akan memumpuk banyak penumpang untuk mereka. Aspirasi penumpang? Bukan urusan mereka. Kadang senewen juga jika kita ingin mengejar waktu namun apa daya tangan tak sampai.
  3. Tipe Kepribadian Improvisasi. Ini sering terjadi jika mereka melihat jalur trayek yang seharusnya tidak terlalu menguntungkan. Jadinya mereka memutuskan untuk memotong jalur atau malah berputar-putar supaya mendapatkan penumpang yang banyak. Improvisasi juga mereka lakukan dengan men-transfer penumpang ke angkutan umum lain jika mereka menganggap meneruskan trayek tidak terlalu menguntungkan lagi. Jadi mereka memindahkan semua penumpang ke angkutan umum lain dan mereka memutar berbalik arah lagi. Ternyata mereka sudah menerapkan kecanggihan teknologi transfer ya, bukan hanya uang atau data saja yang bisa ditransfer. Mereka juga tampaknya mencintai musik Jazz karena suka dengan improvisasi, walaupun umumnya musik yang mereka setel di perjalanan adalah dangdut. Atau mungkin dangdut lebih canggih improvisasinya ya? Ah, ngelantur.
  4. Tipe Kepribadian Autis. Mereka tidak terlalu peduli dengan keselamatan penumpang yang ingin naik atau turun. Sepertinya mereka lupa dengan fungsi rem, tetap saja kecepatan tinggi waktu menaikkan atau menurunkan penumpang. Yang ada di kepala mereka cuma pikiran mereka sendiri bagaimana dapat penumpang banyak. Yah seperti orang autis saja-lah. Biasanya terjadi kalau di depan atau belakang mereka ada saingan angkutan umum lain, sehingga melambatkan laju kendaraan saat penumpang naik atau turun bisa menghambat kecepatan kendaraan. Tipe Autis juga terjadi saat ada perampokan atau penodongan terhadap penumpang, seperti pernah saya alami beberapa tahun lalu. Seakan mereka tidak peduli dengan keamanan penumpang yang dijadikan target kejahatan, mereka hanya berani mengintip dari spion tapi tidak melakukan apa-apa. Mungkin memang mereka kan bukan pahlawan ya? Dalam hati mereka cuma "Kacian deh lu..."
Apa yang dapat disimpulkan dari tipologi kepribadian di atas? Jakarta memang bukan kota yang ideal untuk bepergian dengan angkutan umum, namun hal ini menjadi keharusan, mau tak mau kalau nggak ada mobil atau motor ya naik apa lagi. Setiap pagi kita akan terbangun dan memikirkan wah nanti supir angkutan umum kita yang seperti apa ya? Itu warna-warni kehidupan, yang kalau kita pikirkan terlalu serius nanti kita bisa jadi stress nggak mau pergi kemana-mana. Ada teman-teman yang mau menambahkan tipe lain dari pengalamannya? Silahkan. Sekian dulu dari saya, terima kasih mau membaca. (Alex Kuple, 29 Januari 2007).

Daily Life : Jakarta Surga Pemusik

Setelah krisis moneter dan kerusuhan 1998, di Jakarta sepertinya merebak fenomena baru yaitu munculnya pemusik-pemusik jalanan atau pengamen di mana-mana. Sebelumnya biasanya kita berjumpa dengan hanya satu atau dua pemusik jalanan di bis yang kita naiki dalam perjalanan. Sekarang coba kita perhatikan, selama perjalanan dalam bis yang sama bisa bergantian sekitar empat sampai tujuh pemusik jalanan. Bisa dikatakan itu adalah tuntutan hidup. Beberapa terpaksa menjadi pengamen karena di-PHK dari kantornya dulu, ada juga yang memang karena tidak diterima bekerja di mana-mana terpaksa menjadi pengamen, selain itu beberapa pengamen muda mencoba mencari peruntungan dengan menjadi pengamen siapa tahu bakat musik mereka semakin terasah di jalanan. Saya temui juga pelajar atau mahasiswa yang terpaksa mengamen untuk menyambung biaya sekolah atau kuliah mereka.
Dengan mengesampingkan latar belakang pengamen, terkadang mereka asyik juga kita nikmati dengan suguhan musik yang bagus karena mereka berbakat, namun ada juga yang sangat mengganggu ketenangan karena suaranya fals, gitarnya juga fals, atau bahkan menyanyi sekedarnya saja sambil bertepuk tangan dengan tempo dan ritmis yang tidak karuan. Yang menjadi menyebalkan juga adalah apabila beberapa pengamen yang naik atau turun lagunya sama itu-itu saja. Wuih, kepala sepertinya mau pecah! Apa daya kita? Mau marah-marah menyuruh diam dikira kita jagoan atau malah orang gila. Untung sekarang ada teknologi MP3 player atau yang lebih lawas walkman kaset, kencangkan saja volumenya tapi hati-hati jangan terlalu lama, bisa merusak telinga juga.
Tulisan ini bukan bermaksud menyudutkan pemusik jalanan, namun ada baiknya meningkatkan kualitas musik supaya yang mendengarkan juga bisa menikmati. Beberapa pemusik jalanan cukup berkualitas seperti pernah saya temui dua orang dengan biola dan gitar, aduh mak asiknya menikmati musik mereka, atau pemain gitar dan penyanyi yang suaranya bagus. Kalau begitu kan kita tidak akan ragu-ragu untuk menjulurkan seribu bahkan lima ribu perak ke kantung yang mereka sodorkan. Sekian dulu dari saya, selamat menikmati musik jalanan. (Alex Kuple, 29 Januari 2006).

Wednesday, January 17, 2007

Show Baim Mataram 16 & 17 Desember 2006

Show ini terselenggara berkat kerjasama dengan mas Hock dan mbak Dewi, mereka suami isteri yang tinggal di Mataram yang gua kenal dulu sekitar 3-4 tahun yang lalu waktu gua main ama Nugie di Mataram. Ada 2 jadwal show, tanggal 16 Desember di Cafe Marina di Pantai Senggigi Lombok dan tanggal 17 Desember di Taliwang Sumbawa Barat bertempat di sebuah lapangan. Show di Marina Cafe berlangsung cukup sukses meski jumlah penonton tidak terlalu banyak, mungkin karena tiketnya lumayan mahal ya, dan penonton Cafe biasanya jaim-jaim. Tapi respon penonton Lombok terhadap lagu-lagunya Baim cukup bagus.

Keesokan pagi kami berangkat menuju Taliwang menggunakan mobil dilanjutkan dengan kapal feri menyeberang ke Sumbawa.









Begitu indahnya ternyata pemandangan laut di daerah Lombok-Sumbawa. Sepanjang perjalanan di darat dari pelabuhan ke Taliwang gua baru bisa merasakan betapa jauh Jakarta dengan segala hiruk pikuk pembangungan, karena sepanjang jalan hanya pepohonan, sawah, dan beberapa ekor kerbau atau sapi. Sampai di Taliwang sekitar pukul 2 siang dan terpaksa tidak bisa langsung checksound karena hujan deras. Show bertempat di lapangan, meskipun habis diguyur hujan, penonton memenuhi seluruh area lapangan yang becek. Sangat antusias mereka menyambut Baim, beberapa lagu mereka turut bernyanyi dan berlompatan (emangnya kodok...?). Walaupun Baim cuma tampil bertiga (Baim Trio: Baim-Vokal&Gitar, Alex Kuple-Bass, dan Acha-Drum), ternyata cukup memuaskan masyarakat Taliwang yang haus hiburan.Terimakasih buat mas Hock dan mbak Dewi atas persahabatannya.